Intip Prospek Properti Menghadapi Tantangan Inflasi Tahun Depan

Seiring dengan pulihnya kondisi perekonomian Indonesia pasca pandemi Covid-19 tiga tahun lalu, industri properti di Indonesia juga makin membaik. Bersama dengan kembali normalnya mobilitas masyarakat, prospek tanah dan bangunan kini kembali dilirik oleh investor juga para konsumen akhir.

Prospek Properti Tahun Depan
Prospek Properti Menghadapi Tantangan Inflasi.
Foto Unsplash by Harmen Jelle van Mourik.

Bahkan menurut Sunarsip selaku Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) memprediksi bahwa sektor perumahan di tahun 2023 akan terus membaik. Itu karena indikator perekonomian Indonesia khususnya perbankan, diprediksi akan lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Peluang dan Tantangan Sektor Properti Tahun 2023

Agung Wirajaya selaku Marketing Director dari PT Agung Podomoro Land mengatakan bahwa industri perumahan akan tetap tumbuh secara positif di tahun 2023. Pasalnya, situasi ekonomi global yang diprediksi akan memburuk di tahun depan karena resesi tidak menyurutkan optimisme pelaku bisnis properti di tanah air.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Sunarsip yang menyebutkan bahwa terdapat sejumlah peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan prospek di sektor perumahan ada tahun 2023. Di antaranya:

1. PDB Indonesia Diprediksi Lebih Dari 5%

Menurut David selaku Kepala Ekonom Bank BCA, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sangat memengaruhi peran sektor tanah dan bangunan di Indonesia. Pada kuartal II tahun 2022, kontribusi industri konstruksi terhadap PDB mencapai 9,14%, sedangkan untuk industri real estate mencapai 2,47%.

Selain itu, pertumbuhan prospek properti pada kuartal II 2022 juga ditunjukan dengan perolehan yang melampaui level sebelum pandemi, yakni untuk real estate sebesar 2,16% (yoy) dan untuk konstruksi sebesar 1,02% (yoy).

2. Dampak Inflasi 2023 Bergerak Turun

Kepala Executive Officer (CEO) dari Lamudi.co.id Polman meyakini meskipun ada isu kemungkinan terjadi resesi di tahun depan, tetapi sektor tanah dan bangunan tetap menunjukkan resiliensi yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan minat pencarian properti meningkat sebesar 18% pada kuartal II 2022, lebih tinggi daripada kuartal I. 

Terlebih lagi, dampak kenaikan terhadap inflasi juga mereda lantaran kebijakan moneter dan suplai pemerintah. Terbukti bahwa pemerintah kini masih menganggarkan Fasilitas LIkuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada masyarakat, tadinya hanya Rp 19 triliun menjadi Rp 23 triliun tahun ini. 

3. Kebutuhan Akan Rumah di Indonesia Masih Sangat Tinggi

Hari Ganie selaku Sekjen Dewan pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI), mengakui bahwa sektor tanah dan bangunan akan menghadapi sejumlah tantangan di tahun 2023, misalnya suku bunga BI yang tinggi mencapai 5,25%, kenaikan bahan baku industri, inflasi, dan lain sebagainya. 

Namun, REI masih optimis bahwa pasar properti masih akan tumbuh secara positif. Hal ini karena kebutuhan akan rumah bagi konsumen akhir di Indonesia masih sangat tinggi. Selain itu, para developer juga didorong untuk terus berinovasi dan mengatur strategi untuk menggaet pembeli, mulai dari desain, fasilitas, hingga konsep perumahan.

Di sisi lain, REI juga terus mendorong pemerintah untuk kembali menstimulus industri perumahan supaya tetap berkembang di tengah besarnya tekanan pasar. Hal ini terbukti bahwa pemerintah kembali memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 100%. Stimulus ini terbukti efektif dalam meningkatkan daya beli masyarakat.

4. Indonesia Dinilai Tetap Menjadi Incaran Investor 

Yunus Karim selaku Kepala Penelitian Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menilai bahwa Indonesia tetap menjadi haluan investasi tanah dan bangunan yang menarik bagi investor lokal maupun asing. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi sosio-ekonomi yang tinggi.

Banyak sektor di tanah air yang dilirik oleh para pebisnis properti, mulai dari properti tradisional seperti warehousing modern dan rumah tapak, properti alternatif seperti data center, hingga pendidikan juga kesehatan. Terlebih lagi, pembangunan jalan bebas hambatan yang makin gencar dilakukan tentu membawa dampak positif bagi pengembangan bisnis properti di kota-kota lainnya di tanah air. 

Dari informasi di atas, dapat Anda simpulkan bahwa secara umum, sektor properti memang memiliki sejumlah peluang untuk tumbuh dengan stabil. Bersama dengan daya tahan ekonomi Indonesia yang kuat, industri ini juga dinilai akan tetap prospektif. 

Jadi, ini merupakan waktu yang cukup tepat bagi konsumen untuk membeli properti yang diinginkan sebelum ada kenaikan suku bunga lagi.

Posting Komentar

0 Komentar