Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400 + Kit)

Menikmati Suasana di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400)
Menikmati Suasana di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400)

Menikmati alun-alun Kabupaten Pemalang pada pagi atau sore hari bagi saya adalah hal yang lumrah alias normal dilakukan. Makanya saya memilih malam karena lebih tenang dan lebih "mengagumi dalam sunyi". Wkwkwk, gawat...!


1. Duduk di Kursi Taman, Nunu dan Kholik menikmati suasana dengan obrolan bapak-bapak.

Saya ingat, waktu itu Alun-alun Pemalang telah dibasahi oleh air hujan yang turun pada sore menjelang malam.

Bahkan genangan air dibeberapa titik masih bertahan disana, sangat tenang, tak ada kaki-kaki yang menginjak-injak kesunyian dan keheningan genangan air hujan itu.

👉Tonton juga:
Video Clip Random 004 #foryou #cinematic #travelvlog #adventure #clips #random #fyp #shortvideo #pov

Foto 1. Pengunjung Duduk Santai Menikmati Suasana Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 1. Pengunjung Duduk Santai Menikmati Suasana Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Oiya, kali ini saya pakai kamera Mirrorless Sony A6400 + Lensa Kit 16-50mm F3.5-5.6 OSS. Kamera yang saya bawa ini pernah saya pakai untuk mrngabadikan moment sunrise di Gunung Telomoyo , traveling Candi Borobudur , berburu sunset Pantai Ujungnegoro dan tempat-tempat menarik lainya di Jawa Tengah.

Kembali ke Alun-alun Pemalang...

Saya datang ke sini tidak sendirian, Ada dua rekan (kerja) yang setujuan Nunu dan Kholik untuk melaksanakan "tugas negara"

Pakai Sony A6400, saya mengabadikan mereka yang sedang asyik ngobrol tentang kehidupan dan saya asyik menikmati suasana yang cukup dingin (karena habis diguyur hujan). Agak Usdek emang 🤣.

2. Leher akar beringin dan lantai pedestrian bermotif persegi saksi bisu musibah di hari raya.

Dari lampu-lampu penerangan disekitar alun-alun, Aspal dan lantai basah yang merefleksikan cahaya malam hingga remang dibeberapa sudut alun-alun seolah menunjukkan betapa alun-alun ini penuh cerita dari masa ke masa. Dan kami bertiga menjadi bagian renik yang hampir tak terlihat didalam ruang dan waktu.

Beberapa meter dari tempat Nunu dan Kholiq duduk santai, ada lantai dengan pola persegi beraneka warna. Hitam, Biru, Kuning dan warna-warna lain yang terlihat memudar oleh waktu dan cuaca.

Diantara pola itu ada satu pola persegi yang didalamnya terdapat sebuah leher akar dan dia diberi cat merah seakan menyiratkan sesuatu yang kelam pernah terjadi di sini.

Saya pun mencoba mengingat-ingat peristiwa-peristiwa viral yang pernah terjadi di Pemalang.

Salah satu peristiwa besar yang masih saya ingat adalah peristiwa nahasnya dua pemuda yang merayakan hari raya idul fitri dengan menyalakan petasan jumbo hingga tewas (kalau nggak salah peristiwa itu terjadi pada 2013 silam).

Tapi peristiwa itu bukan di alun-alun Pemalang sih. Jadi ini nggak nyambung dengan leher akar yang dicat merah ini.  

Saya coba ngeling-eling lagi yang moment-nya sama-sama di saat moment lebaran.

Pada tanggal 31 Maret 2025, yang bertepatan dengan akan dilaksanakannya sholat idul fitri di Masjid Agung Nurul Kalam.

Peristiwa berdarah ini menewaskan 3 orang (semoga mereka Syahid) dan 16 korban luka-luka yang terjadi pada 31 Maret 2025.

Dan sepertinya, warna merah pada leher pohon yang terbingkai persegi di lantai bagian timur Alun-alun Pemalang ini menandakan peristiwa kelam tersebut, ini hanya perkiraan saja yah Klepusher.

Dari peristiwa-peristiwa tadi dapat kita tarik sebuah refleksi bahwa meskipun semua kalender penanggalan memuat berbagai peristiwa tapi kita nggak pernah tahu kapan apes itu akan terjadi pada diri kita.


👉Baca juga: Pelajaran Hidup dari Hobi Baru: Persiapan Memelihara Kelinci

Foto 2. Lantai dicat hitam dan pangkal batang pohon beringin. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 2. Lantai dicat hitam dan pangkal batang pohon (leher akar) beringin. Foto dokumentasi Sparklepush.com

3. Pelajaran hidup dari kursi taman yang kokoh dalam diam

Apa yang Klepusher rasakan saat melihat foto sebuah kursi taman panjang yang tidak dipakai seorang pun?

Bagi saya, Kursi taman yang kosong bukan mencerminkan kehampaan. Ia merefleksikan kesunyian yang menenangkan, kekuatan, kesabaran, hening bahkan merefleksikan sebuah keteguhan.

Objek foto kursi taman di alun-alun Pemalang yang saya abadikan dengan kamera Sony A6400 ini bisa saja merefleksikan 5 hal tadi.

Mungkin ini cara saya menikmati suasana di Alun-alun Pemalang yang lebih mengutamakan pengungkapan makna dari suasana yang atmosfernya adem untuk refleksikan diri ditengah keramaian dan menyelam lebih dalam supaya saya lebih peka.

Ya. malam ini saya merasa diingatkan oleh sebuah bangku taman yang terbuat dari material logam bahwa untuk menjadi diri yang hebat terkadang nggak perlu berkoar-koar, cukup diam.

Diam bukan berarti lemah, tapi menurut saya salah satu bagian dari kekuatan untuk menahan diri dari emosi yang meletup-letup hingga tak bisa menguasai diri sindiri. Dan inilah kekuatan yang luar biasa, menguasai diri dan menguasai keadaan.

👉Baca juga:  Burung Kokok Beluk: Suara Malam yang Sering Disalahpahami


Foto 3. Kursi Taman di Alun-alun Kota Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 3. Kursi Taman di Alun-alun Kota Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

4. Tegal, Brebes Bisa mencontoh Alun-alun Pemalang soal tulisan timbul

Sepertinya, ini menjadi tren seluruh wilayah di Jawa Tengah, dimana disetiap alun-alun terdapat tulisan timbul.

Di Kota Tegal, tetangga sebelah baratnya Kota Pemalang, tulisan Alun-alun juga ada. Bahkan di alun-alun Brebes kota terdapat tulisan alun-alun juga di pojok barat laut (seinget saya lho ya, CMIIW).

Tapi diantara tiga alun-alun ini, cuma Pemalang yang terlihat lebih kece di mata saya.

Di alun-alun pemalang, tulisan timbul lebih estetik, bahkan jenis Font-nya pun bikin saya bertanya-tanya: ini pakai Font apa ya?

Selain itu, pemberian lampu pada Tulisan Timbul yang beraneka warna bikin vibes yang lebih hidup.

Sayangnya ada salah satu huruf yang lampunya dibiarkan mati. Semoga saja semua hurufnya nyala kembali suatu hari nanti ketika saya berkesempatan lagi berkunjung ke Alun-alun Pemalang.

Foto 4. Tulisan Timbul "Alun-Alun Pemalang" dihiasi lampu yang menyala. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 4. Tulisan Timbul "Alun-Alun Pemalang" dihiasi lampu yang menyala. Foto dokumentasi Sparklepush.com

5. Patung Perjuangan, setengah abad lebih berdiri kokoh.

Ada yang menarik perhatian saya setelah memotret tulisan timbul Alun-alun Pemalang yaitu Patung atau monumen Perjuangan Bambu Runcing.

Menurut informasi yang saya dapatkan. Patung ini sudah ada sejak tahun 70an. Mohon koreksinya jika saya salah dalam menuliskan informasi ini.

Patung yang berdiri kokoh di depan saya ini ternyata menghadap ke timur. Entah siapa yang dia hadapi?

Yang jelas, tangan kirinya memegang erat sebuah bambu runcing dan tangan kanannya mengenggam keatas seolah meneguhkan semangat perjuangan.

Mungkin patung ini diciptakan untuk mengingatkan kita tentang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang diraih dengan peperangan mengangkat senjata meskipun hanya dengan sebilah bambu runcing.

Sama-sama berjuang, Mode Intelligent Auto masih mencoba memperjuangkan memotret ini dengan bermain ISO diangka yang tinggi sekali yaitu 6400, dan secara otomatis memainkan Apperture 5.6 dan speed 1/25s. Hasilnya cukup menakjubkan. Ini adalah hasil jepretan Sony A6400 di tangan seorang pemula. Jadi, mohon sarannya dan jangan dibully karena saya orangnya gampang minder. (Mana masih pakai mode auto pula. Wkwkwkwk)

Foto 5. Patung Perjuangan Alun-alun Kota Pemalang. Foto dokumentasi sparklepush.com

6. Nanas Madu Belik Terbesar yang pernah saya lihat (jangan serius bacanya, ini cuma patung/monument)

Saya kembali lagi ke lokasi tulisan timbul Alun-alun Pemalang.

Diantara gemerlap lampu yang ada di sekitar alun-alun. Ada sebuah monumen lagi yang seolah-olah ditaburi cahaya lampu-lampu itu dan melukis keindahan malam di Alun-alun Pemalang.

Ini (Foto 6) adalah monumen Nanas Madu.

Kenapa harus Nanas yang jadi monumen? Kenapa nggak tokoh masyarakat Kabupaten Pemalang saja yang dijadikan memorial di tengah tanah lapang Alun-alun Pemalang?

Tapi menurut saya kenapa yang dijadikan patung adalah buah Nanas karena Kabupaten Pemalang terkenal dengan komoditi buah Nanas Madu yang sering disebut juga dengan nama Nanas Madu Mbelik, sesuai dengan nama asalnya, Belik.

Dan di suasana malam yang minim penerangan, hanya ada cahaya lampu-lampu penerangan jalan di sekitar Alun-alun Pemalang, Mode Intelligent Auto Sony A6400 ini memutuskan bermain ISO tinggi di angka 6400.

Klepusher bisa lihat hasilnya pada Foto 6 di bawah ini ya.

Foto ini saya edit tipis-tipis pakai Photoscape X yang masih gratisan. Bukan pakai Photoshop ataupun Light Room.

Hasilnya ternyata cukup memuaskan, setelah di-edit tipis-tipis ternyata minim noise. Kalaupun ada Noise— menurut saya masih bisa ditolerir.

Salah satu komposisi yang saya suka dalam foto ini adalah refleksi patung Nanas Belik yang jatuh di lantai.

Basahnya lantai di sekitar Patung seolah-olah menjadi cermin alam yang memantulkan bayangan Patung Nanas Belik yang berada di atasnya. Tapi jangan pernah terjebak dengan bayang-bayang semu ya Klepusher.

Terkadang, bayangan itu muncul lebih indah atau bahkan lebih buruk dibanding objek aslinya. Dan ingat, seindah apapun bayang-bayang itu hanyalah sepuah tipu muslihat yang bisa membuatmu terlena atau tersadar.

Foto 6. Patung Nanas, Alun-alun Kotoa Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush,cin
Foto 6. Patung Nanas, Alun-alun Kotoa Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush,cin

7. Gugur satu tumbuh seribu (pemulihan pasca peristiwa pohon beringin tumbang di hari raya Idul Fitri 2025)

Sementara itu dibagian barat Alun-alun Pemalang ini terdapat sepetak tanah atau ruang kosong yang dimanfaatkan untuk menanam kembali pasca peristiwa musibah pohon beringin tumbang di hari raya.

Salah satu tanaman yang aku suka adalah Bunga Tabebuya.

Bunga Tabebuya ini mengingatkan saya tentang sebuah kota yang sejuk, damai, ramah yaitu Kota Purwokert. Saya posting dengan judul " Foto Jalan-jalan di Kota Purwokerto. Kota yang Punya Banyak Julukan (Part 2) "

Dengan ditanaminya calon-calon pohon peneduh baru di Alun-alun Pemalang ini diharapkan akan kembali mengisi ruang terbuka hijau yang bukan hanya punya nilai estetik tapi juga sedikit menambah nilai ekologis dimana pohon-pohon besar akan secara masif menyerap karbon dan memberikan kualitas udara yang lebih baik.

Di bagian bawah kolase foto 7, saya masih bertahan menggunakan intelegen auto Mode Intelligent Auto yang kebetulan masih berkutat di ISO 6400 untuk settingan pemotretan malam menggunakan kamera Sony A6400. Bisa dibilang foto daun-daun Tabebuya dengan backlight lampu penerangan jalan Alun-alun punya komposisi potret yang paling bagus. Penilaian (bagus) ini hanya berdasarkan sudut pandang pribadi (saya) ya. Perlu diingat, saya bukan seorang fotografer/videografer profesional dan juga bukan seorang amatir. Saya hanya seorang penyuka saja.

Foto 7. Bunga Tabebuya di Alun-alun Kota Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 7. Bunga Tabebuya di Alun-alun Kota Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

8. Percaya-nggak-percaya: Patung Nanas Madu, Batu Prasasti Peresmian Renovasi dan Tiang Bendera adalah satu garis lurus dengan Pendopo.

Waktu sudah menunjukkan setengah sebelas malam lebih. Namun aku, Nunu dan Kholiq masih menikmati suasana di Alun-alun Kota Pemalang meskipun dengan cara yang berbeda. Aku dengan Sony A6400-ku sedangkan Nunu dan Kholiq asyik membahas ekonomi, politik, sains, sosial, teknologi dan mungkin sampai kehidupan luar angka, khas obrolan laki-laki apa lagi ini cowok paruhbaya. 🤣🤣🤣🤣

Mungkin kalau saya ikut bergabung dengan obrolan mereka, akan saya komplitkan lagi dengan dunia perfileman mulai dari animasi, fiksi, fiksi ilmiah, komedi dan lainnya. Yang nggak nyambung paling cuma angguk-angguk kepala atau cuma bilang "Ooo!"


Satu garis lurus dengan Monument Nanas Madu, berdiri dengan kokohnya sebuah batu peresmian renovasi Alun-alun Pemalang dan tiang bendera. Tapi, kalau mau ditarik lurus lagi ternyata:
  1. Monumen Nanas Madu
  2. Batu Peresmian Renovasi Alun-Alun, dan
  3. Tiang bendera
Ketiga-tiganya satu garis lurus dengan Bangunan Pendopo Kabupaten Pemalang. Nggak percaya? Coba cek google mapsnya!

Di batu peresmian renovasi alun-alun ini ada ukiran yang tertulis:

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RENOVASI ALUN-ALUN PEMALANG
Diresmikan tanggal 15 Mei 1993
Oleh
GUBERNUR KDH TK.I JAWA TENGAH
M. ISMAIL

Foto 8. Batu prasasti peresmian renovasi dan tiang bendera di Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.,com
Foto 8a. Batu prasasti peresmian renovasi dan tiang bendera di Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.,com

Foto 8b. Tampak depan. Batu Prasasti Peresmian Renovasi Alun-alun Pemalang yang ditanda-tangani Gubernur M. Ismail. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 8b. Tampak depan. Batu Prasasti Peresmian Renovasi Alun-alun Pemalang yang ditanda-tangani Gubernur M. Ismail. Foto dokumentasi Sparklepush.com

9. Menemukan JokesViral di dunia nyata: Segitiga sama kaki.

Untungnya, moment ini saya abadikan (dengan Sony A6400+Lensa Kit).

Waktu itu, kaki saya berada diantara bayang-bayang yang membentuk segitiga, kaki saya berdiri tepat di bawah sudut puncak.

Tiba-tiba saja memori dalam otak saya flashing dan berkata "Sepertinya ini jokes yang tidak asing" dan otak saya pun meringis licik.

Jokes yang saya maksud adalah "Segitiga sama Kaki" yang menjadi plesetan di berbagai sosial media.

Umumnya jokes ini disajikan dalam bentuk dialog seorang siswa (kemungkinan masih duduk di) sekolah dasar yang diberi soal perintah menggambar bangun segitiga sama kaki (maksudnya segitiga yang panjang kakinya sama) namun soal tersebut dijawab dengan gambar yang membagongkan yaitu gambar bangun segitiga dan disampingnya gambar kaki.

Polos banget...

Bener sih, tapi nggak bener juga.

Salahnya adalah si siswa ini tidak menggambar segitiga yang kaki-kakinya memiliki panjang yang sama. dan ditambah lagi dengan menggambar 2 kaki dengan maksud menerjemahkan kata demi kata dalam bentuk visual/gambar dan tertuang dengan gambar sebuah bangun segitiga dan 2 kaki.

Serius, ini bikin saya ngakak waktu pertama kali melihatnya....! Bukan untuk mengejeknya atau menghina jawaban polosnya tapi ini suatu kejenakaan yang tak terduga. Accidentally jokes.

Ah, sudahlah.

Aku mengabadikan kaki yang pakai sandal jepit dan bayangan segitiga dan dengan diusahakan secara presisi memotret sudut dari atas agar segitiga hitam dan kaki saya mewakili jokes "Segitiga sama Kaki"

Foto 8 yang saya ambil masih menggunakan metode iAuto.

Mode iAuto mengatur sendiri apperture, ISO, Shutterspeed pada device dan setelah auto fokus bekerja sesuai dengan yang diharapkan, saya pun bergegas mengabadikannya.

Foto 9. Moment di Alun-alun Pemalang dapat foto Segitiga sama Kaki. Foto dokumentasi Sparklepush.com

9. Mengabadikan Manusia Malam dan bayang-bayang gelap di cermin alam.

Malam itu belum benar-benar selesai bahkan waktu benar-benar terasa melambat. Bukan karena ada kekasih pujaan hati, tapi karena terlalu asyik menikmati riuh namun senyap terserap bayangan.

Lampu-lampu penerang jalan di Alun-alun Pemalang masih berdiri dengan tenangnya, memantulkan cahaya di permukaan lantai yang belum sepenuhnya kering. Sisa air hujan seperti enggan pergi, seolah ingin memperpanjang momen sebelum benar-benar hilang diserap udara malam. Bahkan ia seperti energi yang terus mengisi ulang tanpa batas.

Aku berdiri beberapa langkah dari titik foto segitiga sama kaki, efek visual yang tercipta dari kebetulan. Tidak banyak yang berubah secara visual — bangku tetap di tempatnya, pohon beringin tetap kokoh, tulisan timbul tetap menyala. Tapi suasananya terasa sedikit berbeda. Mungkin karena aku sudah lebih lama di sana. Atau mungkin karena diam yang terlalu lama membuat pikiran mulai berbicara lebih keras.

Di momen itu, aku masih pasrah dengan Mode Intelligent Auto. Angka ISO dan shutter speed, aku biarkan diatur sama "aspri" kamera Sony A6400 kecuali komposisi atau tata letak objek. Sony A6400 sejatinya cuma jadi saksi. Yang bekerja justru perasaan dan ingatan, cita rasa dan logika.

Ada sesuatu tentang ruang terbuka di malam hari yang selalu membuat manusia menjadi lebih jujur pada dirinya sendiri. Tidak ada hiruk-pikuk siang, tidak ada lalu lalang yang tergesa. Hanya cahaya, udara, dan jarak pandang yang lebih lapang dari biasanya.

Aku mengambil satu frame terakhir bukan karena objeknya istimewa, tapi karena rasanya tepat. Seperti tanda bahwa malam ini cukup. Bahwa perjalanan kecil ini, meski sederhana, layak untuk disimpan.

Dan mungkin, seperti genangan air yang memantulkan cahaya, beberapa momen hidup memang baru terlihat indah ketika kita berhenti sejenak… dan melihatnya dari sudut yang berbeda dan moment itu aku bekukan dan aku abadikan di Foto 10.

Foto 9. Ketika rasa dan cerita bersembunyi dalam sunyi namun tetap indah dalam bayang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 10. Ketika rasa dan cerita bersembunyi dalam sunyi namun tetap indah dalam bayang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

10. Para pejuang nafkah bercerita di bawah tenda merah, saat malam menenangkan alun-alun Pemalang

Foto 10 di bawah ini sebenarnya diambil di titik yang sama namun dengan sudut yang beda.

Jika pada foto sebelumnya saya mengambil sudut membelakangi mereka namun mendapatkan foto refleksi air yang ciamik (menurut saya), nah, pada foto 10 ini saya menghampiri objek dan memohon ijin untuk mengambil foto.

Usai mengambil foto ketiga bapak-bapak ini pun saya tak lupa mengucapkan terima kasih yang tulus kepada mereka karena bersedia menjadi objek foto dan sekaligus menjadi bagian dari cara saya menikmati suasana alun-alun Pemalang di malam hari.

Mari kita doakan bersama-sama agar mereka senantiasa diberikan kesehatan yang prima, rezeki yang berlimpah dan berkah, umur yang panjang yang berkah dan diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah.

Andai saja saat itu saya menjadi bagian dari perbincangan mereka, mungkin saya akan menanyakan bagaimana mereka menghadapi tantangan hidup yang sudah mereka lalui dan mengambil ibroh dari perjalanan hidup mereka. 

Itu mungkin akan menjadi sesuatu yang bukan hanya menarik, tapi sangat menginspirasi Klepsuher, ya ga yah?

Foto 10. Para pejuang nafkah bercerita di bawah tenda merah, saat malam menenangkan alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 11. Para pejuang nafkah bercerita di bawah tenda merah, saat malam menenangkan alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Sementara travel story Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400 + Kit) sampe sini dulu ya. Kita lanjut travel story Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400 + Kit) di Part 2-nya, Masih ada beberapa sudut yang belum sempat saya ceritakan.

Posting Komentar

0 Komentar