Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400 + Kit) (Part 2)

Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400 + Kit) (Part 2)
Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400 + Kit) (Part 2)
 
By the way, ini adalah postingan kedua dari pembahasan "Menikmati Suasana Malam di Alun-alun Pemalang" dimana gear yang saya pakai untuk dokumentasi dengan kamera Sony A6400 dan pake Mode Intelligent Auto.

1. Setingan waktu pada kamera Sony A6400 yang ternyata berubah dan selisih lebih dari 1 jam saat mengabadikan moment susana malam di Alun-alun Pemalang.

Jujur, saya nggak ngutakatik setingan waktu. Saya baru sadar setelah meninjau hasil jepretannya sambil mengingat-ingat timeline momentnya tiap hasil jepretan yang saya lihat.

Ini agak mengecewakan saya sih. Tapi, pelajaran yang bisa saya ambil adalah: selalu cek dan recek gear sebelum aktifitas capturing or recording moment.

Jika Klepusher mengalami masalah yang sama dengan saya, tenang saja, masalah ini bukan akhir dari segalanya.

Urutkan saja nama file-nya. Beres kan....! Sesimpel itu dan nggak perlu panik.

Contoh File yang mengalami kesalahan perekaman waktu ada pada Foto 1a. di bawah ini.

Dalam file yang saya Back Up di laptop saya, Secara penamaan file bernomor lebih awal dibanding Foto 1b.

Timestamp pada Foto 1a terekam pada pukul 23:27:22 sedangkan pada Foto 1b terekam pada 22:45:44. Padahal Foto 1a diambil lebih awal dan pada saat itu kita sampai di alun-alun Pemalang sedangkan Foto 1b diambil pada saat kita akan meninggalkan Alun-alun Pemalang.

Foto 1b. Berjalan di pedestrian Alun-alun Pemalang yang luas banget. Foto dokumentasi Sparklepush.com - Hasil jepretan Sony A6400)

Foto 1a. Berjalan di pedestrian Alun-alun Pemalang yang luas banget. Foto dokumentasi Sparklepush.com - Hasil jepretan Sony A6400)

2. "Tersangka" penyebab korban meninggal dunia akhirnya dieksekusi


Peristiwa berdarah tumbangnya cabang pohon beringin di tahun 2025 saat sholat idul fitri bukan hanya meninggalkan duka tapi trauma mendalam masyarakat sekitar.

Seketika Filosofi pohon beringin melambangkan pengayoman, kekuatan, persatuan, dan keabadian hilang dalam sekejap.

Pohon-pohon beringin yang dulu (sebelum peristiwa maut idul fitri 2025) bikin adem kala matahari terik menyengat, kini hanya tersisa leher akarnya saja yang dicat merah.

Saya jadi ingat saat saya jalan-jalan Ke Candi Borobudur tahun lalu. Di sini, saya sempat mengabadikan seorang juru kamera yang sedang asyik ngadem di bawah pohon Beringin.

Semoga saja beringin-beringin di sekitar Candi Borobudur tidak senasib dengan alun-alun kota Pemalang.

Begitu pula dengan pohon beringin yang pernah saya lihat saat berpetualang mencari curug Kali Kawung, Banyumas.

Foto 2. Leher akar beringin di area trotoar depan tulisan timbul Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 2a. Leher akar pohon (diduga pohon beringin) di area trotoar depan tulisan timbul Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Foto 2b. Leher akar pohon beringin di sebelah barat area tugu/monumen nanas madu. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 2b. Leher akar pohon beringin di sebelah barat area tugu/monumen nanas madu. Foto dokumentasi Sparklepush.com

3. Malam semakin larut namun roda ekonomi masih terus berdenyut.

Meskipun tidak semeriah dikala matahari menerangi bumi Pemalang namun mereka yang mengharap ada peluang di garis malam tetap optimis melakukan aktifitas ekonomi mereka.

Dalam kondisi cahaya yang tidak begitu melimpah saya pun kembali mencoba mengambil peluang menangkap cahaya malam.

Kamera Sony A6400 dengan Mode Intelegen Auto masih memaksa penggunaan ISO tinggi yaitu 6400 dan dengan bukaan diafragma yang cukup besar serta kecepatan shutter yang menurut saya agak lambat.

Dengan kata lain, saya sebagai pemula dalam hobi fotografi justru belajar dari settingan Mode Intelegen Auto. Apakah ini normal?

Ini memang bukan ekspektasi saya namun melihat peluang, keprakstisan, penghematan waktu maka mode auto (Sony: Intelegen Auto) sangat membantu sekali dalam tahap awal belajar fotografi untuk pemula seperti saya.

Memang, di bukaan F/4 cahaya masuk lebih banyak dibanding F/11, begitu pula dengan shutter speed yang lebih lama 1/50 detik juga dimaksudkan supaya sensor dapat menangkap cahaya lebih lama dibanding 1/500 dan ISO 6400 juga meningkatkan sensitifitas sensor terhadap cahaya. Mohon koreksinya jika saya salah.

Dan konsekuensinya. Objek tertangkap cukup jelas namun sebenarnya jika hasil jepretannya diperbesar maka kekurangan-kekurangan akan muncul dan yang paling mudah dideteksi oleh mata saya adalah ketajaman objek yang tidak merata. 

Foto 3. Pedestrian - Jalan - Pedagang - Malam yang meredup menyatu dalam satu bingkai. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 3. Pedestrian - Jalan - Pedagang - Malam yang meredup menyatu dalam satu bingkai. Foto dokumentasi Sparklepush.com

4. Diskusi 2 Kursitaman dan Lampu Taman yang jadi Moderator

Mungkin karena malam semakin dingin, dan otak semakin mengecil, namun tetap dituntut untuk waras maka penglihatan di depan mata tentang 2 kursi dan 1 lampu taman membuat imajinasi saya semakin liar.

Apa yang saya lihat dari mata kepala saya sendiri dan diabadikan oleh kamera Sony A6400 seolah membekukan moment 2 kursi dan 1 lampu taman yang tengah berdiskusi dan lampu tamanlah yang jadi moderatornya.

Wah. otak saya lagi absurd kayaknya.

Namun, apa yang saya lihat di sini memang menyiratkan sebuah diskusi malam 2 kursi taman dan 1 lampu taman yang cukup terang menghalau gelap.

Terlalu personifikasi nggak sih menurut Klepusher?

Foto 4. 2 Kursi Taman dan 1 Lampu Taman di salah satu pojok alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Foto 4. 2 Kursi Taman dan 1 Lampu Taman di salah satu pojok alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Sementara travel story-nya sampe sini dulu ya. Saya mau ngopi dan udad-udud dulu dan akan saya lanjutkan dilain kesempatan.

Posting Komentar

0 Komentar