| Menikmati Suasana di Alun-alun Pemalang (POV: Sony A6400) |
Menikmati alun-alun Kabupaten Pemalang pada pagi atau sore hari bagi saya adalah hal yang lumrah alias normal dilakukan. Makanya saya memilih malam karena lebih tenang dan lebih "mengagumi dalam sunyi". Wkwkwk, gawat...!
Saya ingat, waktu itu Alun-alun Pemalang telah dibasahi oleh air hujan yang turun pada sore menjelang malam.
Bahkan genangan air dibeberapa titik masih bertahan disana, sangat tenang, tak ada kaki-kaki yang menginjak-injak kesunyian dan keheningan genangan air hujan itu.
| Foto 1. Pengunjung Duduk Santai Menikmati Suasana Alun-alun Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Oiya, kali ini saya pakai kamera Mirrorless Sony A6400 + Lensa Kit 16-50mm F3.5-5.6 OSS. Kamera yang saya bawa ini pernah saya pakai untuk mrngabadikan moment sunrise di Gunung Telomoyo, traveling Candi Borobudur, berburu sunset Pantai Ujungnegoro dan tempat-tempat menarik lainya di Jawa Tengah.
Kembali ke Alun-alun Pemalang...
Saya datang ke sini tidak sendirian, Ada dua rekan (kerja) yang setujuan Nunu dan Kholik untuk melaksanakan "tugas negara"
Pakai Sony A6400 saya mengabadikan mereka yang sedang asyik ngobrol tentang kehidupan dan saya asyik menikmati suasana yang cukup dingin (karena habis diguyur hujan). Agak Usdek emang 🤣.
Dari lampu-lampu penerangan disekitar alun-alun, Aspal dan lantai basah yang merefleksikan cahaya malam hingga remang dibeberapa sudut alun-alun seolah menunjukkan betapa alun-alun ini penuh cerita dari masa ke masa. Dan kami bertiga menjadi bagian renik yang hampir tak terlihat didalam ruang dan waktu.
Beberapa meter dari tempat Nunu dan Kholiq duduk santai, ada lantai dengan pola persegi beraneka warna. Hitam, Biru, Kuning dan warna-warna lain yang terlihat memudar oleh waktu dan cuaca.
Diantara pola itu ada satu pola persegi yang didalamnya terdapat sebuah leher akar dan dia diberi cat merah seakan menyiratkan sesuatu yang kelam pernah terjadi di sini.
Saya pun mencoba mengingat-ingat peristiwa-peristiwa viral yang pernah terjadi di Pemalang.
Salah satu peristiwa besar yang masih saya ingat adalah peristiwa nahasnya dua pemuda yang merayakan hari raya idul fitri dengan menyalakan petasan jumbo hingga tewas (kalau nggak salah peristiwa itu terjadi pada 2013 silam).
Tapi peristiwa itu bukan di alun-alun Pemalang sih. Jadi ini nggak nyambung dengan leher akar yang dicat merah ini.
Saya coba ngeling-eling lagi yang moment-nya sama-sama di saat moment lebaran.
Pada tanggal 31 Maret 2025, yang bertepatan dengan akan dilaksanakannya sholat idul fitri di Masjid Agung Nurul Kalam.
Peristiwa berdarah ini menewaskan 3 orang (semoga mereka Syahid) dan 16 korban luka-luka yang terjadi pada 31 Maret 2025.
Dan sepertinya, warna merah pada leher pohon yang terbingkai persegi di lantai bagian timur Alun-alun Pemalang ini menandakan peristiwa kelam tersebut, ini hanya perkiraan saja yah Klepusher.
Dari peristiwa-peristiwa tadi dapat kita tarik sebuah refleksi bahwa meskipun semua kalender penanggalan memuat berbagai peristiwa tapi kita nggak pernah tahu kapan apes itu akan terjadi pada diri kita.
| Foto 2. Lantai dicat hitam dan pangkal batang pohon (leher akar) beringin. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Apa yang Klepusher rasakan saat melihat foto sebuah kursi taman panjang yang tidak dipakai seorang pun?
Bagi saya, Kursi taman yang kosong bukan mencerminkan kehampaan. Ia merefleksikan kesunyian yang menenangkan, kekuatan, kesabaran, hening bahkan merefleksikan sebuah keteguhan.
Objek foto kursi taman di alun-alun Pemalang yang saya abadikan dengan kamera Sony A6400 ini bisa saja merefleksikan 5 hal tadi.
Mungkin ini cara saya menikmati suasana di Alun-alun Pemalang yang lebih mengutamakan pengungkapan makna dari suasana yang atmosfernya adem untuk refleksikan diri ditengah keramaian dan menyelam lebih dalam supaya saya lebih peka.
Ya. malam ini saya merasa diingatkan oleh sebuah bangku taman yang terbuat dari material logam bahwa untuk menjadi diri yang hebat terkadang nggak perlu berkoar-koar, cukup diam.
Diam bukan berarti lemah, tapi menurut saya salah satu bagian dari kekuatan untuk menahan diri dari emosi yang meletup-letup hingga tak bisa menguasai diri sindiri. Dan inilah kekuatan yang luar biasa, menguasai diri dan menguasai keadaan.
| Foto 3. Kursi Taman di Alun-alun Kota Pemalang. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Sepertinya, ini menjadi tren seluruh wilayah di Jawa Tengah, dimana disetiap alun-alun terdapat tulisan timbul.


0 Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang komunikatif, sopan, berbobot, dan tentunya yang relevan.
Jika kedapetan mengandung unsur p#rn#, ujaran kebencian, Sara, politik, link aktif, hoax maka akan dihapus.
✌❤😁
🙏Terimakasih🙏