Nyobain Birding Tipis-tipis Pakai Sony A6400 + Tamron 70-300mm (A-Mount)

Sony A6400 merupakan salah satu kamera paling banyak diminati oleh pemula, termasuk saya dan kali ini saya nyobain buat hunting burung alias Birding pakai lensa jadul Tamron 70-300mm A-Mount.

Alasan kenapa saya pilih meminang kamera Mirrorless Sony A6400 sudah saya spil sebelumnya di postingan saya yang membahas tentang 3 rekomendasi kamera Mirrorless untuk pemula. Klik aja tautannya.

Lokasi Birding tipis-tipis pakai sony A6400 + lensa Tamron 70-300mm A-Mount

Lokasi hunting (birding) kali ini masih di sekitar daerah Brebes, yaitu daerah jalingkut yang pada saat itu cukup ramai dengan lalu lintas kendaraan-kendaraan besar.

Begitu nemu spot hunting yang bagus, saya pun langsung berhenti. Untungnya spot hunting nggak terlalu jauh jadi nggak perlu blusukan kemana-mana karena lokasinya memang berada di pinggir jalan Jalingkut Kabupaten Brebes.

FYI: Daerah ini sepertinya masuk antara 2 wilayah desa yaitu antara Desa Kaliwlingi dan Desa Kedunguter.

Keberuntungan Golden Hour untuk fotografer pemula. 

Seekor Burung Blekok di tengah tambak (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount)
Foto 1. Seekor Burung Blekok di tengah tambak (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount). Foto dokumentasi Sparklepush.com

Sony A6400 dan Tamron 70-300mm A-mount langsung saya keluarkan dari persembunyiannya. Tripod KNF Comcept pun tak ketinggalan, langsung saya set dan jadi tumpuan Sony A6400 + Lensa zoom jadul tamron.

Akhirnya, ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba, Golden Hour, Blekok, Refleksi Air dan vibes senja ada dalam satu waktu dan tentu tidak ingin sekalipun saya lewatkan.

Cekrek...(suara jepretan kamera khas Sony) akhirnya tertangkap seekor burung blekok di atas tambak, sendirian, tak ada kawan. Seperti saya yang memotretnya tanpa kawan.

Foto 1. itulah hasil jepretan moment touring tipis-tipis di Jalingkut Brebes

Jujur, ada tantangan tersendiri saat menggabungkan lensa tele "kelas bulu" dengan Sony A6400.

1. Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-mount menjadi 100% lensa manual.

Ini benar-benar sangat menantang bagi saya yang baru memulai hobi fotografi. 

Dengan lensa yang 100% manual, Saya jadi sering memutar lensa untuk mendapatkan fokus yang tepat. Tak jarang saya menghela nafas panjang untuk sekedar menenangkan diri dari situasi random yang saya hadapi dan sekaligus melatih kesabaran untuk mendapatkan moment yang tepat.

2. Sony A6400 Tidak dibekali IBIS dan Tamron 70-300 Tanpa Optical Image Stabilizer

Ini adalah tantangan kedua selama hunting birding di area tambak Jalingkut Brebes.

Ibarat orang tuli ketemu orang bisu, combo mematikan buat fotografer apalagi buat saya yang masih pemula. Geser dikit, habislah sudah.

Disituasi ini saya lebih memilih tetap pada apperture terbesar yaitu f/4 Untuk mendapatkan cahaya yang diperlukan. 

Tripod KnF Concept bukan hanya tumpuan tapi solusi tepat

Karena pada saat itu Golden Hour sudah hampir undur diri, saya menaikan ISO di angka 500 supaya sensitifitas cahayanya dapet namun tidak nois dan shutter speed saya panteng di angka 1/500.

Sebenarnya dengan Shutter speed 1/250 juga bisa kok.

Cuman, mungkin saya udah kena mental duluan, takut kalau target yang sedang saya bidik tiba-tiba bergerak cepat dan akhirnya ngeblur.

Jadi dengan mengatur Shutter Speed di 1/500 s + Tripod dapat membekukan pergerakan target tanpa kehilangan ketajaman, begitu kira-kira menurut saya yang masih pemula.

Saya memang menginginkan target sepenuhnya Freeze. Jadi saya main di angka shutter speed 1/500, biar aman.

Experimen shutter speed 1/160 s dan kompensasi yang saya hadapi.

Seekor Burung Blekok diantara semak-semak (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount)
Foto 2. Seekor Burung Blekok diantara semak-semak (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount). Foto dokumentasi Sparklepush.com

Shutter speed di angka 1/160 s memungkinkan banyak cahaya yang diterima sensor APS-C Sony A6400. Cocok juga untuk birding burung blekok yang lagi nggak terlalu aktif.

Di area tambak Jalinkut ada banyak sekali burung blekok yang lagi berdiri tenang mengamati sekitar untuk mencari makanan.

Ini adalah habitat alami mereka dimana umumnya para blekok mencari makan di daerah perairan dangkal seperti pinggiran sungai, area tambak hingga sawah.

Sangkin banyaknya mereka, saya sampai nggak sadar kalau ada blekok lain di samping saya. 

Agak jauh sih, mungkin sekitar 20-40 meteran.

Melihat ada blekok yang lebih dekat, saya putar lensa zoomnya, saya atur fokusnya, sensitifitas ISO 500 dan saya turunkan shutter speed di angka 1/160 s dan masih pakai bukaan terbesar lensa Tamron 70-300mm A-Mount.

Hasilnya saya tunjukkan pada Foto 2 di atas dengan sedikit penyesuaian warna.

Menurut pertimbangan saya, menurunkan Shutter Speed di angka 1/160 s supaya saya bisa mendapatkan cahaya yang cukup. Selain itu, saya memprediksikan bahwa target 99% tidak akan melakukan gerakan tiba-tiba.

Namun kompensasi yang saya hadapi adalah Chromatic Aberration yang cukup memgganggu. Tapi mau gimana lagi, ini lensa terbaik yang saya punya. Setidaknya saya sudah memulai dengan peralatan yang saya punya dari pada tanpa memulai sambil nunggu bisa beli lensa super tele.

Dari sini saya belajar bahwa.

Foto wildlife memiliki situasi dan kondisinya sangat dinamis, penuh kejutan, dan unpredictable. Perlu lensa yang proper untuk fotografi semacam ini.

7 Ekor Burung Blekok dalam satu frame (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount)
Foto 3. I’m gonna head out first. (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount). Foto dokumentasi Sparklepush.com

Mulai menurunkan shutter speed

Entah kenapa cahaya matahari di senja kali ini begitu cepat meredup, saya mulai ketar-ketir.

Bukan karena saya sendirian di lokasi atau kemunculan entitas lain yang tak terduga tapi penguasaan segitiga exposure masih paham dikit-dikit.

Akhirnya melihat situasi yang mulai agak gelap, saya lebih memilih menurunkan Shutter speed di angka 1/160 s.

Saya memilih mengorbankan kecepatan rana dibanding menaikkan ISO dan lagi apa yang bisa diharapkan dengan bukaan lensa di F/4.

Di Foto 3 dan Foto 4 adalah hasil jepretan shutter speed 1/160 s Sony A6400. Mungkin ini bukan hasil yang terbaik namun setidaknya saya sudah mulai mencoba bereksperimen dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada pada saat pengambilan foto.

5 Ekor Burung Blekok dalam satu frame (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount)
Foto 4. 5 Ekor Burung Blekok dalam satu frame (Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount). Foto dokumentasi Sparklepush.com

Yang saya rasakan saat melihat hasil foto dari setingan yang saya pilih.

Secara moment sih sebenarnya sudah tertangkap dengan baik — ini menurut saya sebagai seorang pemula di dunia fotografi satwa.

Foto 3 dan Foto 4 menurut saya merefleksikan kebahagiaan

Namun ada beberapa hal yang menjadi catatan penting buat saya untuk kedepannya.

  1. Lensa Tamron 70-300mm  A-Mount Rawan Chromatic Aberration terutama jika zoom dibikin mentok dan aperturnya tetap di angka terbesarnya.
  2. Lensa 70-300 punya rentang zoom yang terbatas, hanya sampai 300mm, kurang ideal untuk memotret target yang sangat jauh dan memframingnya.
  3. Menjadi lensa manual jika harus dipaksakan ke Sony A6400 kecuali punya converter A-mount to E-mount body — cuman harganya setara beli lensa baru, jadi mikir ulang deh.
  4. Upgrade lensa ke tele yang sebenarnya, misalnya 100-400mm Sony E-mount tapi harganya nggak ngotak 🤣

Baca juga
Sony 100-400 GM di Sony A6400: Lensa Impian atau Sekadar Terlihat Keren?

Foto 5. Dokumentasi Sparklepush.com

Saya belum nyerah, Eksperimen foto birding berlanjut di Shutter Speed 1/100 s

Matahari semakin terbenam dan cahaya semakin menghilang. Saya mulai dihadapkan dengan situasi pencahayaan yang agak remang.

Di sinilah legenda "jagonya low light" diuji.

Saya masih memakai setingan Appertur terbesar Tamron 70-300mm A-Mount, ISO 500 dan sekarang saya menurunkan shutter speednya di angkan 1/100 s.

Jujur, kalau nggak dibantu sama Tripod KnF Concept mungkin saya nggak berani menurunkan shutter speed hingga sekecil itu.

Setau saya, semakin kecil angka shutter speed maka semakin lama diafragma membuka dan menutup, mohon koreksinya jika saya salah.

Jadi secara teknis, semakin lama diafragma membuka maka semakin banyak cahaya yang diterima oleh sensor, dalam hal ini sensor APS-C yang disematkan ke dalam Sony A6400.

Hasil jepretannya saya tunjukkan pada Foto 6 dan Foto 7 setelah melalui proses editing sederhana di software Photoscape X (saya pakai yang versi gratisan sih 😁)

Foto 6. Dokumentasi Sparklepush.com

Foto 7. Dokumentasi Sparklepush.com

Akhirnya, matahari pun benar-benar tenggelam dan senja pun telah meninggalkan peraduannya di ufuk barat.

Peringatan dari alam yang seolah-olah berkata; "Pulanglah, masih ada hari esok. Simpan pelajaran yang kamu dapatkan hari ini. Besok kamu harus lebih baik lagi"

Saya mulai mengemas peralatan sambil menghela nafas dalam-dalam sambil berkata "Semoga hasilnya sesuai harapan"

Pelajaran yang saya dapatkan dari nyobain birding tipis-tipis pakai Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount.

  1. Keterbatasan alat jangan sampai mengurangi semangat untuk berkreasi, bereksperiman dan belajar.
  2. Perlu banyak literasi sebelum praktik di lapangan.
  3. Harus cepat tepat dalam berfikir dan bertindak.
Bagi kamu yang suka dengan postingan ini, saya tunggu komentarnya.

Barangkali saya bisa ketularan ilmu dari Klepusher soal birding dan genre fotografi lainnya.

Posting Komentar

0 Komentar