Travelstory tentang touring tipis-tipis ke Desa Pesisir Prapag Kidul ternyata belum sepenuhnya selesai. Masih ada detail yang tertinggal namun tidak pernah hilang di kepala.
Setelah saya beranjak dari gubug sederhana dan mulai menjelajah, selangkah demi selangakah, saya seperti menemukan lembaran-lembaran baru yang aku dapatkan dari touring tipis-tipis di Desa Pesisir Prapag Kidul.
Perahu yang tak lagi bernahkoda.
![]() |
| Perahu usang. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Ditepian sungai yang hulunya bernama sungai Riwen, bersandarlah sebuah perahu usang.
Tak ada lagi mesin dan tak ada lagi warna yang melapisi badanya. Dia seperti dibiarkan telanjang dan rapuh.
Tak ada lagi nahkoda ataupun juru mudi.
Perahu ini mungkin tak akan lagi bisa berlayar mengarungi laut jawa untuk sumber penghidupan. Bagian-bagian perahu yang tersisa mungkin bisa dimanfaatkan ulang.
Membangun hunian sederhana
![]() |
| Membangun hunian sederhana. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Di sisi lain...
Ada seorang bapak yang dengan telatennya menysun rangka bambu untuk membangun sebuah hunian sederhana.
Mungkin inilah perwujudan dari frase "alon asal kelakon". Sebuah kalimat yang melekat dalam peribahasa orang jawa bermakna: Pelan tapi pasti.
Sederhana dan cukup, dua kata yang sering terucap namun kadang ruang di kepala kita memaknainya dengan cara yang berbeda.
Pro dan Kontra itu pasti ada. Kadang ada yang menanggapinya dalam frame kemiskinan namun ada pula yang menanggapinya dengan "hidup sesuai dengan kemampuan" dan dari sini mungkin kita perlu merumuskan standarisasi kelayakan.
Ngadem di tempat yang tak terduga.
![]() |
| 3 ekor ayam berteduh di kolong perahu. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Alam kadang memberi kejutan yang tak terduga. Seperti moment 3 ekor ayam yang lagi asyik ngadem di kolong perahu yang belum jadi ini.
Entah kenapa ketika ketiga ayam ini berteduh di bawah bakal perahu membuat saya adem pula melihatnya. Apakah karena warna mereka yang cenderung menyatu dengan latar dan hampir berkamuflase atau karena ketidak pedulian mereka dengan keegoisan manusia?
Tapi satu yang pasti, harmoni hidup setenang ini hanya mereka yang merasakan meskipun pada akhirnya hidupnya berakhir di meja makan. Wkwkwkw....
Keceriaan diantara puing-puing dan perahu yang bersandar.
![]() |
| Keceriaan anak pesisir Prapag Kidul bermain layangan. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Dikala matahari kian meninggi, yang aku bayangkan adalah: anak-anak kembali ke rumah, nonton tv atau main game ponsel tapi tidak dengan beberapa anak ini.
Mereka justru menikmati angin utara diantara puing-puing, perahu yang bersandar dan melengkapinya dengan kegembiraannya bermain layangan.
Saya jadi heran, biasanya, angin utara membawa hujan tapi angin utara di Desa Pesisir Prapag Kidul justru membawa kebahagiaan dan keceriaan yang senyum riang mereka harus aku tinggalkan dengan rela namun bingar-bingar keceriaan mereka tetap membekas dalam kenangan.
Terima kasih sudah membaca hingga sejauh ini dan dari touring tipis-tipis ke desa pesisir Prapag Kidul, Kecamatan Losari Kabupaten Brebes, saya:
Menyimpulkan bahwa touring kadang bukan soal perjalanan dan tujuan. Tapi tentang kepekaan indera ke-enam (rangsangan batin) yang mengaduk-aduk dopamin menjadi kepuasan yang tak ternilai.
Perahu yang tak lagi bernahkoda
Rumah sederhana yang sedang dibangun
Ayam yang diam-diam menikmati ngadem di salah satu sisi lambung perahu
Dan keceriaan anak-anak bermain layangan diantara puing-puing, angin utara dan perahu yang bersandar.
Kadang, perjalanan terbaik bukan yang terjauh.
Tapi yang membuat kita berhenti sejenak… dan benar-benar menyaksikan.






0 Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang komunikatif, sopan, berbobot, dan tentunya yang relevan.
Jika kedapetan mengandung unsur p#rn#, ujaran kebencian, Sara, politik, link aktif, hoax maka akan dihapus.
✌❤😁
🙏Terimakasih🙏