Waktu itu aku lagi di bengkel resmi Suzuki, niat awal cuma sederhana: ganti oli, cek ringan, lalu pulang. Rutinitas yang mungkin sudah sering saya dan Klepusher lakukan tanpa banyak pertimbangan.
Tapi tak jauh dari motorku ada salah satu sepeda motor yang membuat mataku tak mau berhenti memandanginya.
Bukan karena warnanya paling mencolok.
Bukan juga karena posisinya yang nggak begitu jauh dari sepeda motorku.
Tapi karena bentuknya yang nggak biasa...!
Tangki besar, proporsi tubuh yang terasa “penuh”, dan yang paling bikin aku mendekat tanpa sadar: dua knalpot yang benar-benar simetris di kanan dan kiri.
Dan setelah kuperhatikan lebih dekat, ternyata ini bukan motor biasa.
Ini adalah Suzuki Inazuma 250.
![]() |
| Suzuki Inazuma 250 warna merah di bengkel resmi. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Sekilas Tentang Suzuki Inazuma 250
Buat yang belum familiar, Suzuki Inazuma 250 adalah motor 250cc dua silinder yang sempat dijual di Indonesia di tahun 2012, tapi entah mengapa tidak bertahan lama di pasar.Dan mungkin itu juga alasan kenapa sekarang terasa seperti “motor langka” bahkan ada juga yang bilang ini motor aneh dari suzuki.
Pertama kali saya ketemu dengan Suzuki Inazuma 250 adalah saat aku melintas di jembatan Sungai Pemali (pantura). Saat itu, saya masih pakai Honda Astrea Prima dan 2 Inazuma 250 dengan elegannya melintas di sana.
Di kelas 250cc, motor ini tidak mencoba jadi yang paling agresif atau paling ringan. Justru sebaliknya, dia tampil seperti motor yang lebih dewasa.
Dari samping, siluetnya mengingatkan ke motor touring kelas menengah. Tangkinya tebal, joknya lebar, Ban depan juga lebar dan posisi duduknya terlihat santai tapi tetap siap diajak jalan jauh.
![]() |
| Detail roda depan Suzuki Inazuma 250. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Kalau kamu cuma melihat sekilas tanpa tahu speknya, sangat mungkin kamu akan mengira ini motor 400cc ke atas.
Mesin 250cc Dua Silinder yang Halus dan Berisi
Salah satu daya tarik utama dari Suzuki Inazuma 250 ada di mesinnya.Konfigurasi dua silinder 250cc ini memberikan karakter yang berbeda dibanding motor satu silinder di kelas yang sama:
- Getaran lebih halus
- Tarikan terasa lebih isi di putaran menengah
- Lebih nyaman untuk perjalanan jauh
Sebaliknya, dia terasa lebih cocok untuk perjalanan santai, kecepatan stabil, dan touring jarak menengah tanpa terasa capek.
Knalpot Kanan-Kiri yang Benar-Benar Fungsional
![]() |
| Detail Dua Knalpot, Kanan dan Kiri yang benar-benar berfungsi dan bukan Gimmick. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Sekarang kita masuk ke detail yang paling mencuri perhatian.
Dua knalpot. Kanan dan kiri.
Di motor-motor lain di kelas 250cc kala itu, hanya memberikan 1 knalpot bagian kanan saja meskipun sudah 2 silinder, contohnya Kawasaki Z250, Yamaha MT-25 dan KTM Duke 200/390 yang cuma satu silinder.
Di dunia modifikasi kadang ada juga yang maksain motor dengan 1 silinder dan 1 Knalpot ditambahin 1 knalpot lagi di bagian kiri yang tujuannya mungkin jadi penyeimbang visual atau sebagai visualisasi keinginan akan motor dengan 2 knalpot.
Tapi di Suzuki Inazuma 250, keduanya nyata. Fungsional.
Dan secara visual, efeknya langsung terasa:
Karena baru lihat lagi motor ini di bengkel setelah sekian lamanya, pertanyaan saya yang langsung muncul di kepala cukup sederhana:
kenapa motor se-keren ini tidak banyak terlihat di jalan raya?
Beberapa kemungkinan yang cukup masuk akal:
Tapi di Suzuki Inazuma 250, keduanya nyata. Fungsional.
Dan secara visual, efeknya langsung terasa:
- Motor terlihat lebih seimbang
- Tampilan jadi lebih “penuh”
- Memberi kesan bahwa Suzuki merancang Inazuma 250 dengan serius dan antusias.
Kenapa Suzuki Inazuma 250 Jarang Terlihat?
![]() |
| Ilustrasi Motor Suzuki Inazuma 250 Jarang Terlihat di Jalan Raya. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Karena baru lihat lagi motor ini di bengkel setelah sekian lamanya, pertanyaan saya yang langsung muncul di kepala cukup sederhana:
kenapa motor se-keren ini tidak banyak terlihat di jalan raya?
Beberapa kemungkinan yang cukup masuk akal:
- Pasar lebih condong ke motor sporty atau praktis
- Bobot Inazuma yang relatif lebih berat di kelasnya
- Harga yang dulu kurang kompetitif dibanding rival
Dia seperti berada di tengah—menawarkan kenyamanan, kestabilan, dan rasa berkendara yang lebih “matang”.
Dan justru karena itu, dia jadi tidak untuk semua orang.
Motor yang Diam-Diam Membekas
Lucunya, aku tidak langsung mengambil banyak foto waktu itu.Aku cuma berdiri sebentar, memperhatikan, lalu kembali ke niat awal: ganti oli.
Tapi setelah pulang, bayangan motor itu masih ikut.
Mungkin bukan karena spesifikasinya.
Bukan juga karena performa yang belum tentu pernah aku rasakan.
Tapi karena satu hal yang agak sulit dijelaskan:






0 Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang komunikatif, sopan, berbobot, dan tentunya yang relevan.
Jika kedapetan mengandung unsur p#rn#, ujaran kebencian, Sara, politik, link aktif, hoax maka akan dihapus.
✌❤😁
🙏Terimakasih🙏