| Foto 1. Potret Kesederhanaan Kampung Budaya Jalawastu. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Di sebuah rumah kayu tua di Kampung Budaya Jalawastu, seorang perempuan duduk tenang di ambang pintu. Tubuhnya membungkuk sedikit, seolah menyatu dengan ritme harian desa yang berjalan perlahan. Kerudung bermotif bunga menutupi rambutnya, sementara tangannya—yang penuh cerita—terulur santai ke depan, seakan sedang berbicara dengan angin yang lewat.
Rumah tempat ia bersandar memamerkan usia: papan-papan yang mulai kusam, jendela kayu yang tak lagi simetris, dan dinding yang menunjukkan jejak waktu. Namun dari celah-celah itu, justru keluar rasa hangat akan kehidupan yang apa adanya. Tidak tergesa. Tidak dipoles.
Sesekali saya mendengar suara induk ayam yang memanggil anak-anaknya, kicauan burung dalam sangkar hingga mereka yang terbang bebas diantara pohon sawo dan desir dedaunan di lereng Cisereuh mengisi ruang alam terbuka yang menabuh lembut gendang telingaku.
Andai saja aku seorang ahli komposisi musik, senandung sederhana Kampung Jalawastu mengalir dalam nada-nada sederhana yang mudah diingat dan selalu dikenang sepanjang masa.
Tapi dalam satu detik napas yang aku hirup justru membuatku tak ingin kehilangan moment kesederhanaan ini dan akupun mulai membekukannya lewat bidikan kamera Sony A6400 yang aku punya, semuanya terasa hening. Seperti kehidupan berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi momen sederhana ini.
Menurut saya ada sesuatu yang lembut namun kuat dalam potret ini—sebuah pengingat bahwa kesederhanaan sering kali memendam keindahan yang tak kita sadari. Bahwa rumah-rumah kayu, tangan-tangan yang renta, dan posisi duduk yang tampak biasa bisa menyimpan fragmen kisah yang lebih luas: tentang ketahanan, tentang tradisi, dan tentang manusia yang tetap berpijak pada kesederhanaan.
| Foto 2. Keheningan jalan gang di Jalawastu yang hening. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Setelah menangkap momen hening seorang perempuan tua di ambang pintu rumah kayu, aku melangkah sedikit lebih jauh menyusuri gang-gang kecil di kampung Jalawastu. Jalur aspal yang membentang di depan mataku terasa seperti undangan untuk memahami kehidupan di sini secara lebih dekat.
Dari balik rumah-rumah kayu yang tertata rapi, tampak lereng perbukitan hijau menjulang, menjadi pelindung alami bagi desa yang lekat dengan tradisi ini.
Rumah-rumah di sepanjang jalan kecil itu memiliki nuansa hangat yang sama: dinding kayu, teras sederhana, dan deretan tanaman yang tampak dirawat dengan penuh perhatian oleh para penghuninya. Semua terlihat bersih, tertata, namun tetap membawa kesan desa yang apa adanya. Sesekali terdengar lagi suara ayam dari kejauhan dan suara itu kembali berpadu dengan desiran angin yang kali ini sumbernya dari bukit.
Di ujung jalan yang sedikit menanjak itu, ada kehidupan yang berjalan perlahan namun pasti—anak-anak bermain, orang dewasa berbincang, dan beberapa anjing kampung berlarian santai. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada tergesa. Kampung Jalawastu seolah mengajarkan bahwa keseimbangan bisa ditemukan dalam ritme hidup yang sederhana.
Melihat pemandangan ini setelah potret perempuan tua tadi, aku merasa seperti sedang membaca bab berikutnya dari buku kehidupan kampung. Setiap sudutnya menyimpan kisah—tentang ketenangan yang dalam, tentang hubungan manusia dengan alam, dan tentang warisan budaya yang terus dijaga tanpa harus diucapkan.
Kampung Jalawastu ini bukan hanya tempat yang indah untuk dikunjungi; ia adalah ruang yang mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan waktu, tanpa harus memaksanya berlari lebih cepat. Dan di antara langkah-langkahku, aku sadar: kadang perjalanan memberi kita lebih dari sekadar pemandangan—ia memberi ruang untuk memahami ulang makna pulang, makna tenang.
| Foto 3. Sungai di Kampung Budaya Dusun Jalawastu, Ciseureuh, Ketanggungan, Brebes. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Menjejaki Kampung Budaya Dusun Jalawastu bikin saya tak henti-hentinya berdecak kagum. Baga melihat kekasih hati yang lama dirindui dan rindu akan ketentraman yang mengalir disetiap denyut nadi, begitu pula sungai yang gemercik airnya lembut berbisik: Kamulah simpony ketenangan yang aku rindui.
Bener, di sini ada sungai yang mengalirkan air jernih. Air itu tak begitu deras—mengalir diantara celah-celah bebatuan, tak tergesa namun tetap memberikan nuansa yang mendalam.
Bahkan, daun-daun yang berguguran di tepian sungai ini pun seolah menafsirkan siklus kehidupan yang sederhana, kalau sudah saatnya jatu, jatuhlag. Kalaupun harus terbawa sungai, mengalirlah. Seakan tak pernah memaksakan diri untuk unjug gigi namun disitulah makna mendalam yang aku rasakan.
Di sini, aku benar-benar tak mempedulikan panduan teknis memotret, ataupun komposisi untuk mendapatkan hasil jepretan yang sempirna, aku abaikan itu.
Dalam hatiku dan tekadku berkata aku hanya tak ingin kehilangan moment saat berkunjung ke Dusun Jalawastu, titik.
Sementara Foto-foto Travel Story Kampung Budaya Jalawastu -nya sampe sini dulu ya. Saya mau menikmati kopi hitam dan udad-udud dulu.

0 Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang komunikatif, sopan, berbobot, dan tentunya yang relevan.
Jika kedapetan mengandung unsur p#rn#, ujaran kebencian, Sara, politik, link aktif, hoax maka akan dihapus.
✌❤😁
🙏Terimakasih🙏