Bagaimana Menyikapi Naik-Turunnya Iman?

Ilustrasi Naik Turunnya Iman. Foto Unsplash.com


Keadaan iman seseorang ibaratnya bagaikan air gelombang lautan yang terkadang naik dan terkadang pula turun. Lalau apa penyebab naik dan turunnya iman dan bagaimana seorang muslim menyikapinya?


Seorang muslim tidak akan pernah lepas dari cobaan hidup bahkan kondisi keimanannya sekalipun.

Kondisi keimanan seorang muslim menentukan nasib kehidupan di dunia dan akhirat bahkan menjadi sandaran kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu sebelum membahas bagaimana menyikapi naik-turunnya iman perlu dipahami dulu pengertian Iman 

Iman, berdasarkan pengertian yang sparklepush.com kutip dari rumaysho.com menyebutkan bahwa perkataaan dalam lisan, keyakinan dalam hati dan amalan dengan anggota badan.

Imam Ahmad berkata,

الإيمان قول وعمل يزيد وينقص

“Iman adalah perkataan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang.” (Diriwayatkan oleh anaknya ‘Abdullah dalam kitab As Sunnah, 1: 207)

Imam Bukhari berkata dalam awal kitab shahihnya,

وهو قول وفعل يزيد وينقص

“Iman itu perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.” Sampai beliau berkata,

والحب في الله والبغض في الله من الإيمان

“Cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah bagian dari iman.” (Shahih Al Bukhari dalam Kitab Al Iman)

Begitulah definisi Iman menurut para ulama yang sparklepush.com kutip dari laman rumaysho.com

Lantas bagaimana kondisi keimanan seorang muslim bisa dalam keadaan naik, dan bisa pula dalam keadaan turun kualitasnya?

Menyikapi hal ini, seyogyanya seorang muslim memahami 2 hal faktor penyebab turun dan naiknya iman yaitu:
  • Faktor internal 
  • Faktor Eksternal
Faktor internal kondisi keimanan seorang muslim dalam keadaan naik (bertambah) yang perlu diperhatikan dan seharusnya dijaga agar tetap istiqomah seperti yang sparklepush.com kutip dari muslim.or.id yaitu

Belajar ilmu agama yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab dengan belajar ilmu yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah inilah yang menjadikan seorang muslim menjadi faham dengan segala amalan yang dia kerjakan dan oleh sebab ilmu pula suatu amalan dapat diterima dan menaikkan  iman seorang muslim. 

Merenungi ayat-ayat Kauniyah yang merupakan ayat-ayat dalam Al-quran yang menunjukkan kebesaran Allah Subahanahu Wa Ta'ala juga menjadi sebab iman seorang muslim bergerak naik. Salah satu contoh ayat Kauniyah terdapat dalam surat Al-Imron ayat 190-191:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
    Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'

    Ikhlas dalam beramal sholih juga menjadi sebab bertambahnya atau naiknya keimanan seorang muslim jadi dalam beramal sholih yang dilaksanakan secara ikhlas maka akan menjadikan seorang muslim semakin naik kondisi keimanannya. 

    Itulah 3 faktor internal yang menjadikan keimanan seorang muslim beranjak naik. Oleh sebab itu, 3 faktor internal ini sebaiknya dijaga keistiqomahannya agar keimanan seorang muslim senantiasa terjaga bahkan tidak mengalami penurunan sama sekali.

    Bagaimana dengan faktor eksternal yang menjadi penyebab naiknya iman?


    Jika disimpulkan dari penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor eksternal adalah faktor yang berada diluar lingkaran dalam diri sendiri, salah satunya yaitu:

    Berkumpul dengan orang-orang sholih
    Bergaul dengan orang-orang yang tepat yang dapat menjaga keimanan agar tetap naik.
    Berada di lingkungan yang mendukung naiknya keimanan.

    Nah, itulah faktor eksternal yang dapat disimpulkan bagaimana menyikapi naik-turunya keminan seorang muslim.

    Namun, untuk mencapai puncak kenikmatan yang kekal (syurga dengan segala kenikmatanya termasuk melihat wajah Allah S.W.T) tidak semudah membalik telapak tangan. 

    Ibaratnya, bisa menjaga iman agar tetap konstan (tidak naik dan tidak pula turun iman) itu akan sangat sulit. Bahkan salah satu kesulitan itu adalah ujian keimanan seorang muslim.

    Meskipun demikian, tetap ada faktor internal dan eksternal yang dapat mengubah iman seorang muslum menurun. Dan turunnya iman seoarang muslim dapat dijabarkan sebagai berikut,

    Faktor Internal Turunnya Iman.

    Faktor internal turunnya tingkat keimanan seseorang (muslim) adalah kebodohan (dalam beragama). Dimana kebodohan dalam beragama yang dimaksud adalah seorang muslim tidak menimba ilmu agama dan sama sekali tidak peduli dengan kebodohannya tersebut.

    Padahal, dari yang sudah dijelaskan di atas tentang naiknya iman adalah sebab dari bertambahnya ilmu agama. Maka turunnya iman seorang muslim bisa disebabkan karena kurangnya menuntut ilmu agama.

    Faktor internal turunnya tingkat keimanan seseorang yang berikutnya sebagaimana yang sparklepush.com kutip dari muslim.or.id yaitu: Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman.

    Berikutnya, faktor turunnya iman seseorang adalah karena perbuatan maksiat dan dosa.

    Perbuatan maksiat sangat bertentangan dengan perbuatan amal shalih seseorang karena jika seorang muslim semakin baik kualitas perbuatan amal sholilhnya maka semakin besar iman dan pahala. Demikian pula sebaliknya dengan amal kemaksiatan amal buruk maka akan mendapatkan dosa yang berlipat-lipat dan dapat meruntuhkan iman seorang muslim.

    Faktor Eksternal Turunnya Iman.


    Penyebab turunnya iman yang berasal dari luar diri seorang muslim adalah godaan syaitan dimana sudah ditakdirkan bahwa Syaitan adalah musuh abadi bagi seorang yang beriman. 

    Dia akan senantiasa membujuk manusia kedalam kemaksiatan dan perbuatan dosa.

    Duania dengan gemerlapnya juga menjadi cahaya yang menyilaukan mata keimanan. Tak jarang dari kita yang sering mendengar kabar seseorang berbuat jahat hanya karena urusan harta, tahta, bahkan wanita. Meraih duniawi dengan cara yang curang hingga menyekutukan Allah.

    Padahal, Allah telah menyiapkan segala kenikmatan yang berlipat-lipat tingkatan nikmatnya dan kekekalan di dalam syurga.

    Selain syaitan, dan dunia, ada satu faktor lain yang dapat menyebabkan turunnya iman seseorang yaitu karena salah dalam memilih teman pergaulan.

    Benar, teman akan sangat menentukan naik turunnya iman seseorang. Bilamana kita tidak bisa mengontrol diri dan iman dalam bergaul maka bisa saja seorang muslim mengikuti agama temannya seperti yang disabdakan Baginda Nabi dalam Hadits riwayat at-Tirmidzi 4/589 dan dinilai hasan oleh imam al-Albani:

    الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

    “Seorang itu berada di atas agama kekasihnya (teman dekatnya), maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.” 

    Lantas bagaimana menyikapi naik-turunnya Iman?

    Introspeksi diri sangatlah penting dalam menyikapi Naik-Turunnya iman. Sebab, kehidupan seorang muslim sangat berkaitan erat dengan keimanan bahkan di akhir hayatnya di dunia sangat menentukan bagaimana akhiratnya kelak.

    Oleh karena itu, jika keadaan iman sedang naik hendaknya bersyukur dan janganlah berbangga diri dan ketika kondisi keimanan sedang turun janganlah berputus asa sebab Allah membuka pintu rahmat dan ampunannya seluas-luasnya selagi kita berada di dunia.

    Semoga artikel ini bermanfaat

    Referensi: 
    https://rumaysho.com/5873-pengertian-iman-menurut-ahlus-sunnah.html
    https://muslim.or.id/1998-sebab-bertambah-dan-berkurangnya-iman.html

    Posting Komentar

    0 Komentar