Nyore di Pelabuhan Jongor Tegal - Mengabadikan Kebersamaan dan Gotong royong

Niatnya sih pengen ngabisin sisa waktu sepulang kerja sekaligus mengobati rasa penasaran pelabuhan itu kayak apa, eh malah dapat foto moment yang penuh cerita.

Yup Sore itu saya memang menyempatkan diri datang ke Pelabuhan Jongor Tegal. Selain ingin melihat kapal yang bersandar di dermaga, saya juga ingin melihat langsung bagaimana hiruk-pikuk pelabuhan dikala sore.

Namun dari sekian banyak kapal yang berlabuh, dan aktivitas orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya, ada satu moment yang membuat saya tergoda untuk memotret seorang pria yang sedang asyik makan buah mangga matang sambil mengacungkan jempol kanannya.

Bukan kapal atau peti yang mencuri perhatian saya sore itu, melainkan seseorang yang menikmati buah mangga di sela kesibukan dermaga.. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Oiya, by the way kali ini saya membawa 2 kamera, Sony A6400 dan Sony A500. Meskipun sama-sama di kelas entri-level, kedua kamera ini punya teknologi yang berbeda dan tentu rilis di tahun yang berbeda juga.

Berikut ini tabel perbandingan kedua kamera yang saya bawa.

Fitur / Spesifikasi Sony Alpha a6400 (2019) Sony Alpha A500 (2009)
Jenis Kamera Mirrorless DSLR (A-mount)
Resolusi Sensor 24.2 Megapixel 12.3 Megapixel
Tipe Sensor APS-C Exmor CMOS APS-C Exmor CMOS
Prosesor Gambar BIONZ X (Generasi Baru) BIONZ (Generasi Awal)
Sistem Autofokus 425 Titik (Phase & Contrast Detect) + Real-time Eye AF 9 Titik (1 Cross-type)
Rentang ISO 100 - 32.000 (Bisa diperluas ke 102.400) 200 - 12.800
Kecepatan Kontinu (Burst) Sampai 11 fps Sampai 5 fps
Kemampuan Video 4K UHD pada 30p, Full HD hingga 120p (S-Log internal) Tidak Mendukung Perekaman Video
Layar Belakang 3.0 inci, Layar Sentuh (Touchscreen), Lipat 180° ke atas 3.0 inci, Tilt (Bisa ditekuk ke atas/bawah), Non-touchscreen
Jendela Bidang (Viewfinder) Elektronik (EVF) OLED - Cakupan 100% Optik (OVF) Pentamirror - Cakupan 95%
Konektivitas Wi-Fi, Bluetooth, NFC, Micro-USB, Micro-HDMI USB 2.0, Mini-HDMI (Tanpa Wireless)
Media Penyimpanan SD / SDHC / SDXC (UHS-I) Dual Slot: SD/SDHC & Memory Stick Pro Duo
Bobot (Bodi Saja) Sekitar 403 gram Sekitar 540 gram

Okay, kita kembali ke Pelabuhan Jongor, Kota Tegal. 

Lokasi Pelabuhan Jongor, destinasi hunting human interest

Pelabuhan jongor berada di sebelah barat daya Alun-alun kota Tegal dengan jarak sekitar 3.7 KM.

Di pertemuan antara Jl. Piere Tendean dan Jl. Jalingkut. Jadi nggak jaug-jauh amat dan nggak butuh waktu lama untuk sampai ke lokasi.

Masuk ke Pelabuhan Jongor, Kota Tegal ternyata gratis...tisss...! Saya suka... Saya suka...

Tidak ada biaya masuk sama sekali.

Dan karena ini pertama kalinya masuk ke Pelabuhan Jongor, saya kebingungan mencari parkiran sepeda motor. Saya pelankan sepeda motor saya sambil clingak-clinguk nyari spot parkir.

Akhirnya ketemu juga di ujung barat.

Setelah motor terparkir disebuah lokasi parkiran dengan aman dan nyaman, saya nggak langsung mengambil kamera untuk memotret tapi memandangi suasana dermaga.

Saya lihat banyak kapal yang bersandar di sini. Ada yang sedang unload muatan dan ada pula yang sedang menyiapkan perbekalan logistik untuk melaut.

2024 Pakai kamera Sony A500, si jadul yang masih enak dipake buat hunting.

Awalnya saya bingung mau pakai kamera yang mana. Sony A6400 si canggih atau Sony A500 yang masih pakai mekanisme penta mirror.

Akhirnya, saya memutuskan pakai Sony A500 sih. Bukan untuk menguji apakah masih enak dipakai atau tidak tapi saya ingin sedikit nostalgia.

Yang saya suka dari kamera ini mantap dipegang, berbobot — karena memang beratnya aja sampe setengah kilo lebih dikit dan uniknya lagi doi sudah dibekali IBIS.

Jadi, meskipun saya pakai Tamron 70-300mm A-Mount yang nggak dibekali image stabilizer masih tetap aman dari guncangan.

Bongkar muatan.

Melihat wajah-wajah  lelah disela-sela waktu bongkar muatan membuat saya mbatin "Lelah membawa berkah"

Yup, kita semua tahu. tidak ada aktivitas yang tidak melelahkan bahkan para pekerja kantoran yang tugasnya cuma analisis, menentukan kebijakan dan ambil keputusan pun merasakannya.

Kenapa saya mbatin seperti itu?

Karena jerih payah, kerja keras, dan keletihan yang dialami seseorang akan berbuah kebaikan, pahala, atau rezeki jika diniatkan dengan tulus dan ikhlas.



Loading perbekalan, persediaan selama berlayar.

Diwaktu yang sama ada semangat yang kompak dalam gotong royong memuat barang-barang perbekalan.

Pekerjaan melaut itu memang butuh perbekalan karena mereka bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan berada di tengah laut.

Perbekalan yang cukup tentu tidak akan mempengaruhi pekerjaan mereka mencari ikan di laut lepas.


Burung-burung pun ikutan sibuk.

Bukan hanya manusia yang sibuk dengan cara mereka bertahan hidup. Di sisi sebelah barat nampak burung-burung yang berterbangan kesana-kemari.

Aku meyakini kalau mereka adalah burung blekok namun bentangan sayapnya kok agak beda dengan sayap burung blekok yang sering saya lihat.

Burung Camar di Pantai Pelabuhan Jongor. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Saya yakin pula ini bukan burung anomali. Entitas burung ini bisa jadi adalah burung camar yang sedang mencari mangsa ikan.

Bagi para nelayan dan pengamat laut, keberadaan camar sering dianggap sebagai petunjuk adanya ikan. Alasannya, burung ini kerap berburu dengan menyambar ikan yang berada tidak jauh dari permukaan air.

Krib, Pemecah ombak yang jadi gelanggang pemancing

Saya memang bukan penghobi mancing atau istilah ngetrennya mancing mania. Tapi kadang teman masa kecil ngajak mancing dan aku iyain aja.

Pemancing di Krib mulai beranjak pulang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Sepakat ikut mancing bukan berarti saya ikutan juga jadi pemancing, saya tetap dengan hobi saya, fotografi.

Melihat ada orang yang sedang mancing di krib pantai pelabuhan Jongor bikin saya inget temen kecilku dan ingin pula ngajakin dia mancing di sini atau hanya sekedar memberitahukan saja lokasi gacor buat mancing.

Bulan November adalah masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

November erat kaitannya dengan musim penghujan.

Dan memang benar, meskipun bulan november 2024 ini belum terasa intensitas hujan yang tinggi, saya mendapati sore ini diguyur hujan. Bahkan saya sempat memotret tukang becak yang sedang berusaha melindungi becaknya dengan terpal plastik

Seorang tukang becak yang sedang menutupi becaknya dengan plastik. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Takut hujan semakin deras, saya kembali ke area parkiran. Bukan karena saya takut kehujanan, tapi kamera sony A500 tidak dibekali dengan weather shield, dan saya takut kenapa-kenapa dengan kamera jadul saya ini.

Begitu juga dengan Tamron 70-300mm A-Mount, lensa tele ringan ini belum dibekali dengan pelindung cuaca eksrtrim jadi saya memilih berteduh di area parkiran.

Jujur, seandainya kameraku dilengkapi dengan teknologi pelindung dari hujan atau cuaca ekstrim, saya tetap ingin berada di luar dan menikmati tiap tetesan air hujan.

Haus yang tak bisa dipadamkan oleh hujan

Meskipun memilih berteduh di area parkiran, saya tidak benar-benar berhenti memotret. Saat hujan mulai turun dan sebagian besar orang di pelabuhan menghentikan aktivitasnya, saya justru terus mengamati keadaan sekitar melalui kamera.

Sebab hujan sore itu tidak sepenuhnya menghentikan denyut kehidupan di pelabuhan. Masih ada orang-orang yang tetap bergerak, bekerja, dan menjalani rutinitasnya di tengah rintik yang semakin rapat.

Seorang pria di Pelabuhan Jongor menembus guyuran hujan sambil membawa 2 gelas mibuman dingin. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Saat berteduh di area parkiran, saya melihat seorang pria tetap berjalan di tengah guyuran hujan yang belum terlalu deras. Di kedua tangannya, ia menggenggam dua gelas minuman dingin.

Momen ini membuat saya kepikiran bahwa:

meskipun hujan meredam panas disore itu namun tak mampu meredam hausnya mereka yang tetap memilih untuk terus beraktivitas. 

Sama-sama cari makan

Disisi barat pelabuhan, saya mengabadikan moment dimana ada seekor burung camar (mungkin) dan sebuah perahu yang melintas.

Keduanya sama-sama memiliki satu tujuan. Mencari sumber kehidupan, ikan.

Yang satu pakai sayap dan yang satunya pakai perahu. Di laut yang sama. 

Seekor burung dan sebuah perahu di atas laut pelabuhan Jongor. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Ini adalah foto terakhir yang membuat saya cukup puas (tanpa bermaksud membanggakan diri yah, kata Pak Ustad, nggak boleh sombong.

Meskipun foto ini diambil pada waktu sebelum moment golden hour, foto di atas masih cukup bagus (penilaian pribadi untuk karya pribadi boleh dong) namun sebenarnya masih bisa lebih bagus lagi jika:

  • timing golden hour benar-benar diperhitungkan padahal nunggu sejam lagi
  • jika pada saat pemotretan ada lebih banyak burung camar.
Nyore di Pelabuhan Jongor, Tegal menurut saya cukup recommended untuk sekedar menghabiskan waktu sore sebelum benar-benar kembali ke rumah.

Dari foto-foto yang saya abadikan menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih tetap ada, mungkin hanya bergeser saja.

Kamera Sony A500 ternyata masih aman-aman saja dipakai di tahun 2024. Yang perlu dicatat hanyalah body kamera yang benar-benar berasa beratnya.

Maju terus Kota Tegal...

Tegal memang laka-laka (Nggak ada duanya), spesial lah pokoknya.

Sehat-sehat para pejuang rupiah di Pelabuhan Jongor, Tegal.

Posting Komentar

0 Komentar