Hunting moment human interest di pelabuhan Jongor Tegal belum benar-benar berakhir.
Saat saya mengakhiri postingan pertama tentang suasana pelabuhan yang diguyur gerimis kini berubah menjadi hujan lebat.
Saya masih berada di area parkiran dan nongkrong di atas motor saya.
Menyadari baterai sony A500 mulai kehabisan nyawa, saya memutuskan beralih ke sony A6400 dan tetap memilih lensa Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 Di LD Macro 1.2 untuk mendokumentasikan moment suasana hujan lebat di Pelabuhan Jongor.
Suasana yang susah ditebak...
Saya mengira kalau hujan yang turun sore itu nggak bakalan begitu derasnya sampai saya melihat ada seseorang yang sedang memanfaatkan kucuran air hujan untuk membasahi sepotong kain.
![]() |
| Foto 1. Hujan deras di Pelabuhan Jongor dipakai untuk mencuci kain. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Dalam keadaan seperti ini saya berusaha mikir gimana caranya supaya bisa menghentikan percikan air hujan.
Akhirnya saya coba memakai shutter speed 1/800s, ISO 1600 dan bukaan lensa terbesar dari tamron 70-300mm A-Mount.
Hasilnya (Foto 1) cukup memuaskan bagi saya yang masih pemula.
Percikan air hujan yang jatuh ke tangan memencar ke segala arah dan setingan ini benar-benar menghentikan gerakan air hujan seolah-olah waktu terhenti.
Keindahan dari sebuah kesalahan
![]() |
| Foto 2. Sepeda motor diterpa hujan deras di Pelabuhan Jongor. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Tapi dibanding merangkai narasi, saya justru merasa Foto 2 di atas justru lebih bercerita dibanding narasi yang saya sampaikan. Sebab, bukan hanya motor kehujanan yang terekspos tapi titik-titik putih air hujan itu berhenti bergerak dan justru seperti salju.
Mengapa saya bilang foto ini adalah Keindahan dari sebuah kesalahan?
Jujurly, saya tidak berharap banyak lensa lensa manual dengan bukaan terbesar di angka F/4? ditambah lagi dengan shutter speed 1/800s dan ISO 1600? Seperti eksperimen brutal tanpa arah ๐คฃ.
Awal saya meninjau hasil di layar 3 inchi sony A6400, benar-benar bikin speechless dan senyum kecut karena terlihat gelap namun saya masih optimis dan tetap menyimpannya karena bisa jadi pelajaran berharga suatu hari nanti.
Dan hari ini, ketika saya buka kembali dengan aplikasi bawaan Sony Playmemories Home dan hanya dengan mengkatifkan autocorrect, segalanya berubah menjadi sebuah pujian—walaupun mungkin hanya saya sendiri yang memuji hasil huntingnya. Wkwkwkw
Saya yakin jika hasil hunting saya di tunjukkan ke channelnya Mba Martha atau Koh Enche Tjin bisa dibantai habis-habisan.
Tetap sibuk walaupun diguyur hujan...
Ditengah kesulitan mengatur settingan kamera yang pas untuk suasana yang tidak bisa ditebak, ada moment dimana satu warna menyita perhatian saya untuk bidikan selanjutnya.
Hujan yang deras sore itu benar-benar membuat pencahayaan alam meredup. Namun seseorang yang tetap sibuk disaat yang lain memilih untuk diam berteduh membuat saya tergoda untuk melanjutkan memotret moment ini.
![]() |
| Foto 3. Satu warna mencuri perhatian di tengah derasnya hujan. Bukan karena ingin menonjol, tetapi karena pekerjaan memang harus terus dilakukan.. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Saat memotret moment ini, saya menurunkan shutter speed di angka 1/160 s dan menaikkan sensitifitas cahaya ke ISO 1250, sementara itu bukaan lensa masih tetap saya pertahankan di angka f/4.
Hasilnya seperti yang saya tunjukkan pada Foto 3 di atas.
Moment ini jadi moment yang sangat berharga karena tanpa menggunakan crative style - selective color, alam sudah menyediakannya. Warna hijau jas hujan yang lebih terang dibanding dengan objek lain disekitarnya.
Sekali lagi saya dibuat takjub dengan Tamron 70-300mm yang bisa membuat latar belakang dan latar depan lebih buram atau blur (bokeh) seolah-olah mengunci objek seseorang berjas hujan hijau yang terlihat lebih menonjol.
Asyiikk... dapat ikan..
![]() |
| Foto 4. Hujan deras menjadi bagian dari hari itu, tetapi aktivitas di Pelabuhan Jongor tetap berjalan tanpa banyak jeda.. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Di tengah derasnya hujan, seseorang berjalan membawa dua ekor ikan hasil bongkar muatan. Kepalanya yang tertunduk membuat saya tidak bisa memastikan apakah ia sedang menahan lelah atau justru menyimpan rasa gembira setelah pekerjaannya selesai. Sebatang rokok yang masih terjepit di sela jari tangan kirinya menjadi detail kecil yang ikut menghidupkan cerita dalam bingkai ini.
Tapi anehnya dari moment itu saya justru merasakan kebahagiaan sampai dalam hati saya yang justru berkata "Asyiik...! Dapat ikan!"
Saat memotret moment ini, saya masih pakai shutter speed 1/160 s, ISO 1250 dan dengan bukaan terbesar Tamron 70-300mm A-Mount dan dengan sedikit pengeditan ringan-ringan saja.
Motor yang dibiarkan kehujanan
Saat saya memotret beberapa motor yang dibiarkan kehujanan sebenarnya dalam hati saya merasa prihatin dengan keadaan itu karena motor-motor itu seharusnya bisa diparkirkan ditempat yang lebih aman dari terpaan hujan.
Mereka memang hanyalah benda namun entah mengapa saya membayangkan seolah-olah mereka adalah kuda yang setia dengan penunggangnya.
![]() |
| Foto 5. Kuda besi yang setia menanti penunggangnya, apapun kondisinya. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Foto di atas lebih terasa dramatis lagi dengan tetesan air hujan yang yang berhasil terekspos dengan cukup baik dan efek dari shutter speed 1/160 s bukan membuat tetesan hujan itu menjadi bola-bola yang melayang namun membentuk garis-garis seperti tirai.
Burung camar yang tetap terbang dikala hujan.
Entah apa yang dia cari dikala hujan turun dengan derasnya di sore itu.
Apakah dia masih mencari makan atau sekedar berkeliling mengamati wilayahnya.
Saya hanya merasakan bahwa pastinya dia terbang untuk suatu tujuan.
![]() |
| Foto 6. Seekor burung camar yang terbang, melayang dan mengamati keaadaan. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
By the way, foto ini agak menyimpang dari hunting human interest di Pelabuhan Jongor, Tegal. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa bukan hanya orang-orang pelabuhan yang tetap beraktivitas saat hujan turun di sore itu tapi burung camar yang ada di sekitar pelabuhan pun ikut andil.
Anggap saja camar ini sebuah "cameo" dalam travel story human interest di Pelabuhan ini.
Mungkin suatu hari nanti akupun akan kembali ke sini untuk memotret mereka dan menjadikan mereka subjek dalam cerita berikutnya.
Badan basah kuyup, perjuangan untuk bertahan hidup...
Jujur, saya tidak sedang mengamati gerak-gerik seseorang di Pelabuhan Jongor, saya hanya ingin mengabadikan beberapa detail kecil disini.
Saya berharap dari hunting aktivitas kesibukan orang-orang di pelabuhan akan menjadi dokumen foto berharga untuk diceritakan kepada anak cucu saya kelak bahwa:
Dunia tidak melulu diisi oleh drama percintaan, kekuasaan atau bahkan kekayaan. Ada hal-hal kecil yang jauh lebih bermakna dari foto-foto yang berhasil didokumentasikan yaitu bagaimana bumi dan isinya bekerja.
![]() |
| Foto 7. Seorang pekerja yang sedang mempersiapkan tabung LPG. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Dari foto 7 di atas saya jadi kepikiran satu hal:
Dibalik nikmatnya sea food yang kita makan ada jerih payah mereka yang berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan di meja makan.
Foto ini memang tidak diambil disaat mereka di laut lepas tapi ini adalah salah satu sesi persiapan yang cukup penting.
Foto ini menurut saya cukup dramatis. Bukan karena objeknya fokus atau background dan foregroundnya bokeh tapi ditengah hujan yang mulai mereda pun aktivitas tetap berlanjut.
Saya sendiri sampai mbatin melihat foto saya sendiri sampai hati yang paling dalam bergumam: "Sehat-sehat pejuang keluarga..!"
Semoga gumam ini menggetarkan langit dan mengabulkannya.
Asu teles...
Kata "Asu Teles" sering dipakai seseorang buat misuh (mengumpat) dan aku nggak nyangka bakal ketemu Asu Teles beneran di Pelabuhan Jongor.
Ada perangai yang menarik dari anjing ini.
"Dia (si anjing) maunya bebas berkeliaran ke mana-mana" kata ibu penjaga parkiran, tempat saya ngaub (berteduh). "Tapi kalau saya mau ke tempatnya dia pasti nggak dibolehin, dia menggonggong kaya ngusir-ngusir" lanjut si ibu parkiran. "Padahal, dia kesini aja aku nggak ngusir-ngusir dia lho" pungkasnya sambil kesel liat muka si anjing yang lagi mondar-mandir dan basah kuyup.
Saya pun tertawa kocak๐คฃ๐คฃ๐คฃ, dan saya pun bilang "Oooooo, wasuu teles...!"
![]() |
| Foto 8. Anjing basah kuyup di Pelabuhan Jongor Tegal. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Asudahlah. terserah si anjing yang penting dia nggak mengganggu keamanan dan kenyamanan para pengunjung pelabuhan, apa lagi saya yang baru pernah ke sini. Takutnya dianggap ancaman dimata si Anjing.
Burung gereja dan sandal jepit...
Kamu (burung gereja), Sendal jepti dan aku kenapa kita sama-sama sendirian yah?
Itulah kata-kata yang terbersit dalam be9nak saya saat melihat hasil foto hunting human interest di sini.
Ini kebetulan atau rencana tuhan sih?
Kayaknya nggak sih, tapi bisa jadi.
![]() |
| Foto 9. Introvert moment saat saya motret seekor burung gereja, sebiji sandal jepti dan ternyata aku sendirian juga tanpa seorang pendamping. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Yang dinanti sebenarnya golden hour di Pelabuhan Jongor. Namun apalah daya, semesta berkehendak lain.
Sampai tiba di pukul 16:42 waktu indonesia bagian Tegal (๐), mendung di ufuk barat tak jua memudar. Dia asik melenggang sambil menghujani bumi mana yang perlu dibasahi.
Aku mulai duel dengan kebosanan.
"Mana sendirian lagi" gumamku dalam hati. Lihat burung gereja sendirian dan ditambah lagi dengan sandal jepit yang kehilangan pasangannya. Rasanya kayak disindir aja gitu sama suasana. Sial...!
Mulai lengang...
Meskipun suasana makin lengang, bukan berarti waktu akan berhenti. Keramaian yang penuhi Pelabuhan Jongor semakin memudar. Kapal-kapal tak lagi dipenuhi aktivitas bongkar-muat.
![]() |
| Foto 10. Pelabuhan Jongor yang Mendadak Sunyi. Foto Dokumentasi Sparklepush.com |
Seperti nonton film yang dijeda, tak ada pergerakan sama sekali.
Aku merasa bahwa inilah saatnya aku pulang. Bukan merasa diusir oleh keadaan tapi memang sudah saatnya berakhir.
Saya jadi ingat salah satu lirik lagunya Ariel (Peterpan) "Tak ada yang Abadi". Diamana ada awal, pasti akan ada akhir.
Ombak yang tak lagi bergejolak...
Sepertinya tanda alam semakin menguatkan saya untuk segera menfakhiri "perburuan" ini.
Air laut yang tenang sepertinya jadi tanda perpisahan yang dama, tal sedikit pun gejolak yang diperlihatkan.
![]() |
| Foto 11. Dibayang-bayangi sunyi. Foto dokumentasi Sparklepush.com |
Dan sebelum benar-benar meninggalkan peraduan antara kapal dan orang-orangnya, saya menyempatkan diri memotret kapal-kapal yang masih bersandar diatas air laut yang tenang.
Oh, andai saja matahari tak semuram hari ini, foto kapal dengan pantulan bayang-bayangnya di air dan background mega yang megah akan menjadi foto dramatis lainya di sesi hunting ini.
Sayangnya keberuntungan sedang berpihak disisi lain yang lebih membutuhkan.
Sendirian di dek Kapal...
Dan ini adalah foto terbaik hunting human interest yang menjadi akhir perjalanan dan cerita di balik hingar bingar pelabuhan Jongor.
![]() |
| Foto 12. Memegang tangga harapan. foto dokumentasi Sparklepush.com |
Di sebuah dek kapal ada seorang ABK yang seolah-olah enggan berdamai dengan sunyi. Dia tetap melakukan aktivitasnya walaupun Pelabuhan Jongor semakin diselimuti sunyi.
Meskipun foto terakhir ini adalah foto terbaik menurut saya bukan berarti tanpa cela.
Cela yang biasa saya rasakan adalah Chromatic Aberration yang terlihat di seutas tali.
Perihal CA pada Tamron 70-300mm A-Mount memang kerap saya sebut beberapa postingan yang melibatkan lensa tele ringan ini.
Tapi mau bagaimana lagi, Ini "pusaka" yang saya punya.
Yang terpenting adalah tetap memotret dengan alat yang kita punya.














0 Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang komunikatif, sopan, berbobot, dan tentunya yang relevan.
Jika kedapetan mengandung unsur p#rn#, ujaran kebencian, Sara, politik, link aktif, hoax maka akan dihapus.
✌❤๐
๐Terimakasih๐