Dari Rujak Ulek, Mie Ayam, Sampai Iseng Nyari Kuliner di Amrik

Siang itu matahari tidak terlalu terik. AC kantor pun tidak terasa begitu dingin. Meski jam istirahat belum tiba, perut saya sudah mulai keruyukan. Maklum, waktu itu saya masih menjadi anak baru di tempat kerja.

Saya sengaja menahan lapar sedikit lebih lama. Sebab, siang itu saya sudah punya satu tujuan: menikmati seporsi rujak ulek yang sejak beberapa hari sebelumnya membuat saya penasaran.

Beberapa hari sebelumnya saya sempat bertanya kepada teman kantor, "Di sekitar sini ada rujak ulek yang enak, nggak?" Hampir semua mengarah ke satu tempat di wilayah Dukuh Sembung, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal.

Supaya lebih mudah ditemukan, saya sematkan lokasi warungnya melalui Google Maps di bawah ini. Siapa tahu suatu saat kamu juga ingin mampir.

Lokasinya nggak terlalu jauh dari tempat kerja saya waktu itu. Cuma sekitar dua menitan saja.

Saya spill ulang lokasinya di Google Map ya biar lebih jelas.

Lokasi Rujak Ulek Enak di Kabupaten Tegal
Rute Lokasi Rujak Ulek Enak. Screenshot google map didokumentasi Sparklepush.com

Rujak Ulek campur Siomay, kayaknya saya baru nemu di sini deh...

Singkat cerita, jam istirahat akhirnya tiba. Saya langsung bergegas menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor. Pikiran saya waktu itu cuma satu: rujak ulek rekomendasi teman kantor.

Kombinasi Rujak Ulek dan Siomay. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Karena lokasinya tidak terlalu jauh, saya sengaja berkendara santai. Sepanjang perjalanan saya malah sibuk membayangkan seperti apa rasa rujak ulek yang begitu direkomendasikan teman-teman kantor. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menikmati rujak.

Saya kadang membayangkan rasa sambal kacangnya yang begitu beraroma saat diulek di atas cobek. Beuuhhh. Bahkan saat saya menulis tentang kuliner lokal ini pun tiba-tiba saja air liur membasahi rongga mulut.

Begitu sampai di lokasi, saya langsung pesan 1 porsi untuk saya sendiri. Dan benar apa yang saya bayangkan saat motoran ke lokasi. Butiran-butiran biji kacang tanah yang sudah digoreng itu semakin menguat aromanya saat diulek. Bikin perut semakin meronta-ronta.

Nggak lama kemudian seporsi rujak ulek yang dicampur dengan siomay sudah tersaji dan siap untuk disantap. Sebelum sendok pertama mendarat, saya mengambil Sony A6400 yang memang hampir selalu menemani ke mana pun. Kali ini saya memasangkan lensa Sony 50mm f/1.8 A-Mount. Entah kenapa, rasanya makanan yang tampil menggoda selalu sayang kalau tidak diabadikan terlebih dahulu.

Akhirnya rasa penasaran itu terbayar sudah. Seporsi rujak ulek campur siomay berhasil memuaskan rasa lapar sekaligus rasa penasaran saya. Kalau ditanya apakah saya akan kembali lagi? Jawabannya sangat mungkin. Nilai kemungkinan saya untuk kembali sekitar 9,5 dari 10.

Mie Ayam dekat kantor yang jadi penyelamat dikala lapar saat enggan cari makan siang jauh-jauh...

Mie ayam adalah salah satu kuliner lokal yang paling mudah ditemukan bahkan di dekat kantor juga ada yang jualan Mie Ayam dan Bakso.

Kadang kalau pas lagi males pergi jauh, atau kelewat jam makan siang karena kerjaan nanggung kalau di tunda, Mie Ayam ini jadi pilihan utama saya.

Saya spill lokasinya di bawah ini

Mie Ayam dan Bakso di Jl Dukuh Sembung, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal
Lokasi Kedai Mie Ayam dan Bakso di sekitar Jl. Dukuh Sembung, Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal. Foto Screenshot google map didokumentasi Sparklepush.com

Saya sudah pernah makan mie ayam di sini beberapa kali.

Soal rasa menurut saya sih enak yah. Seperti Mie Ayam pada umumnya.

Kalau mau ditambahin baksonya juga boleh. Jadinya Mie Ayam Bakso bahkan di menu tertera demikian, tentunya dengan penyesuaian harga. Jika versi originalnya seharga Rp.7000an bisa membengkak jadi 10 Ribu lebih kalau dicampur sama Bakso.

Mie Ayam Bakso, kuliner lokal yang ada di Jalan Dukuh Sembung, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Mie Ayam Bakso, kuliner lokal yang ada di Jalan Dukuh Sembung, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Saya memesan semangkok Mie Ayam Bakso dan pelayan mengeksekusinya dengan cepat. Hidangan pun sudah tersaji di atas meja lesehan kecil. 

Sebelum satu suapan ke mulut, saya ambil kamera dulu di tas untuk mengabadikannya. Saya masih pakai Sony a6400 + Lensa Sony 50mm f/1.8 A-Mount.

Ada yang menarik perhatian saya di sini, yaitu lontong yang tersaji di atas meja makan lesehan. 

Lontong original dengan bungkus daun pisang yang tersaji di meja lesehan kedai bakso dan mie ayam dekat kantorku di Jl. Dukuh Sembung Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal
Lontong berbungkus daun pisang. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Selesai memotret makanan di meja lesehan, saya pun mulai menyantapnya.

Rasanya seperti makan dua menu sekaligus namun disajikan dalam satu sajian. Mangkuk Mie Ayam dan Bakso.

Aku yang saat itu sedang laper-lapernya sampai lupa kalau Mie Ayam Bakso ini baru diangkat dari dandangnya. Panas di lidah tersentuh kuah mie ayam membuat rongga mulutku mulai memproduksi air liur secara ugal-ugalan.

Air liurku seperti pemadam kebakaran. Dia memadamkan sensasi panas dari kuah Mie Ayam.

Setelah sadar kalau makan buru-buru itu nggak baik, saya pun mulai mengatur ritme suapan demi suapan hingga akhirnya seporsi Mie Ayam Bakso ludes tak tersisa.

Kini saya menyandarkan tubuh yang kekenyangan sambil selonjoran.

Memotret Kaki sendiri setelah kekenyangan menyantap Mie Ayam Bakso Seporsi. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Memotret Kaki sendiri setelah kekenyangan menyantap Mie Ayam Bakso Seporsi. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Sambil menyandarkan badan dan selonjoran, tangan saya meraih ponsel yang tadinya saya anggurin karena harus menyantap hidangan.

Saya mulai scroll tipis-tipis layar Samsung Galaxy M15

Saat scrolling mencari referensi kuliner, saya berhenti sejenak di website resmi Bar Suzette yang menampilkan beberapa hidangan menarik. Screenshot website resmi Bar Suzette. Dokumentasi oleh Sparklepush saat mencari referensi kuliner.

Beberapa detik kemudian, layar ponsel saya menampilkan website Bar Suzette. Dari foto-foto hidangan yang ditampilkan, tempat ini langsung menarik perhatian saya. Saya memang belum pernah mencicipinya secara langsung, jadi belum bisa menilai bagaimana rasanya. Namun tampilannya cukup menggoda dan membuat saya berharap suatu hari nanti bisa memasukkannya ke dalam itinerary jika berkesempatan mengunjungi New York.

Entah kenapa, setiap selesai makan enak saya sering iseng mencari referensi kuliner lain. Bukan karena masih lapar, tetapi karena memang saya senang melihat bagaimana makanan disajikan di berbagai daerah, bahkan di negara lain.

Kalau kuliner lokal seperti rujak ulek dan mie ayam sudah berhasil membuat saya bahagia, saya jadi penasaran seperti apa pengalaman menikmati makanan ketika suatu hari nanti berkesempatan berlibur ke luar negeri.

Saya memang belum pernah menginjakkan kaki di New York. Namun, kalau kesempatan itu datang suatu hari nanti, Bar Suzette rasanya layak masuk ke dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi untuk menikmati suasana sekaligus mencicipi hidangan yang selama ini hanya saya lihat melalui foto-fotonya.

Sambil membayangkan suasana kota yang sama sekali berbeda dengan tempat saya menikmati semangkuk mie ayam siang itu, saya tersenyum sendiri. Ternyata makanan memang punya cara yang unik untuk membawa imajinasi kita berkelana, bahkan ketika tubuh masih duduk santai di warung sederhana dekat kantor.

Posting Komentar

0 Komentar