![]() |
Ada kalanya perjalanan pulang tidak hanya membawa kita kembali ke rumah, tetapi juga mempertemukan kita dengan momen yang sama sekali tidak direncanakan.
Sore itu saya pilih menepi, mematikan mesin motor Smash Fi saya, lalu menikmati sejenak pertunjukan alam di kolong langit Jalingkut, Tegalsari, Kota Tegal.
"Alhamdulillah", kata hati saya. Kalimat pertama yang saya ucapkan usai menurunkan standar motor kemudian mulai mengambil kamera Sony A6400 + Tamron 70-300mm A-Mount dan mengamati keadaan sekitar.
"Cekrek...!📸 Cekrek...!📸". Saya abadikan suasana Jalingkut di sekitar Tegalsari Kota Tegal untuk pertama kalinya.
Saya memang tidak sedang berburu lokasi wisata.
Tidak pula sedang merencanakan sesi hunting fotografi.
Sekonyong-konyong begitu saja.
Langit yang mulai berubah warna seperti memanggil saya untuk berhenti sejenak.
Dan untungnya, saya mendengar panggilan itu.
Sebuah senja yang tidak datang sendirian
Foto pertama menjadi alasan kenapa saya menghentikan laju sepeda motor.
Matahari perlahan turun di balik atap-atap rumah, sementara awan mulai berubah menjadi kanvas berwarna jingga.
Namun yang membuat momen ini terasa hidup justru bukan mataharinya, bukan pula langitnya yang menjingga.
Melainkan orang-orang yang tetap memutar roda kehidupannya masing-masing.
![]() |
| Foto 1. |
Ada seseorang yang tetap berjalan meskipun pelan. Dan setelah saya amati, sepertinya dia adalah salah satu personel pekerja proyek perbaikan infrastruktur jalan yang sedang proses.
Ada juga kendaraan yang terus melintas meskipun salah satu ruas mulai dibatasi ruangnya supaya tidak melintasi area yang sedang diperbaiki.
Ya, beginilah kota Tegal pada hari itu yang tetap sibuk seperti biasanya.
Tiba-tiba Saya tersadar...
Saya hanyalah satu orang yang kebetulan memilih berhenti.
Sementara ribuan orang lainnya mungkin sedang berusaha segera sampai di rumah.
Ketika kota tetap bergerak
Semakin lama saya berdiri di atas flyover Tegalsari, semakin terasa bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti.
Mobil datang silih berganti.
Motor terus melintas.
Langkah kaki seseorang perlahan menjauh.
![]() |
| Foto 2. |
Semuanya berjalan seperti biasa.
Yang berubah hanyalah ritme saya.
Saya yang biasanya terburu-buru, sore itu memilih memperlambat langkah.
Dan ternyata...
Beberapa menit saja sudah cukup membuat cara pandang terhadap perjalanan berubah.
Tidak semua foto harus dipenuhi subjek
Ada satu hal yang saya sukai dari sesi hunting dadakan sore itu.
Semakin matahari tenggelam, semakin sedikit objek yang saya cari.
![]() |
| Foto 3. |
Awalnya saya memotret matahari.
Lalu rumah-rumah.
Kemudian jalan.
Hingga akhirnya saya lebih banyak memotret langit.
Rambu lalu lintas.
Lampu jalan.
Siluet pepohonan.
Bahkan ruang kosong.
Tapi ada satu hal yang tak ingin aku lewatkan begitu saja, yaitu saat seseorang sedang berjalan sendirian di pinggir flyover.
Dia berjalan melawan arus, tapi dia searah dengan terbenamnya matahari.
Pikiran saya jadi menerawang jauh melihat moment ini.
Bukan karena penasaran siapa orang itu, tapi karena moment melangkah sendirian - melawan arus - tapi searah dengan matahari yang mulai mengakhiri panggungnya jadi sesuatu banget...
Ini seperti berjuang melawan takdir namun takdir pula yang menentukan akhirnya.
Sementara itu ruang pikiran saya yang lain mulai menyadari bahwa kadang-kadang yang membuat sebuah foto terasa hidup bukan karena banyaknya objek, melainkan karena ruang yang dibiarkan berbicara.
Saya mulai benar-benar menikmati apa yang ada di depan mata.
Jujur, Saya masih belum begitu ngerti tentang fotografi, yang saya lihat saat berhenti di Flyover Tegalsari, Kota Tegal adalah keindahan senja dan jalanan yang masih sibuk. Sayang kalau dibiarkan lewat begitu saja tanpa diabadikan.
Saya tidak sedang mengejar matahari, juga tidak sedang berduka karena cahaya terangnya harus ganti "shift" dengan malam. Tapi saya berada di sini hanya untuk satu hal. Menikmati sisa waktu.
![]() |
| Foto 4 |
Foto 3 yang saya tunjukkan di atas adalah orang terakhir yang saya abadikan setelah itu hati saya mengajak beranjak dari tempat ini. Bukan untuk mengakhiri sesi yang sedang saya nikmati tapi mencoba beralih ke ruang hidup yang lain.
Sebelum benar-benar meninggalkan flyover Tegalsari, sempat terucap di hati "Saya ingin kembali lagi ke sini, suatu hari nanti, di waktu pagi"
Saya pun mulai meninggalkan tempat ini dan sebelum meninggalkannya ada satu foto terkahir (Foto 4) sebagai kenang-kenangan.
Senja harus berakhir namun bukan berarti tamat.
Sebelum benar-benar beranjak dari tempat ini, saya masih menyempatkan diri untuk mengabadikan moment menghilangnya matahari dibalik bangunan-bangunan dan pephonan di Tegalsari.
Ini seperti matahari pamit dari panggungnya namun bukan berarti cerita hari ini harus tamat.
Justru ini awal dari kehidupan di hari esok yang penuh harapan positif
![]() |
| Foto 5. |
Foto 5 ini adalah moment ketika hari itu matahari sudah benar-benar menghilang di ufuk barat. Tiba-tiba saja saat melihat foto ini ada doa yang yang diam-diam terucap dalam hati: "Ya Alllah, jika hari ini tak sebaik apa yang direncanakan, semoga esok bisa lebih baik."
Walaupun matahari berjalan pelan, tapi ada satu hal yang tak bisa dipungkiri. Dia akan menutup pertunjukannya.
Saat cahaya benar-benar meredup ada keindahan lain yang saya rasakan ketika saya melanjutkan perjalanan menuju rumah. Keindahan itu sederhana yaitu Jalan Jalingkut yang dihiasi lampu penerang jalan.
Komposisi foto Leading Line Lampu-lampu itu berjejer mengikuti tepian jalan, memberikan pencahayaan yang cukup bagi para pengendara, termasuk saya.
Di sini, saya menyaksikan lebih banyak kendaraan berlalu-lalang. Mereka sepertinya ingin secepatnya sampai di tujuan, nggak seperti saya yang pilih melambat untuk menyaksikan dunia yang pelan-pelan menjadi gelap.
Bermain dengan bayang-bayang
Memotret bukan hanya tentang seberapa jelas dan terangnya objek, terkadang membiarkannya dalam gelap menjadikan foto yang indah dan misterius.
![]() |
| Foto 6 |
Saat Matahari benar-benar semakin tenggelam di ufuk barat, langit jalingkut semakin meredup.
Yang tersisa hanya bayang-bayang yang bermain di depan lensa Tamron 70-300 A-Mount.
Cahaya yang semakin menghilang kini berganti dengan remang-remang senja. Tapi aku tetap berusaha mengabadikan sebisanya.
Tetap sibuk meski hari semakin redup
![]() |
| Foto 7 |
Berusaha akur dengan keterbatasan
Terkadang memahami keterbatasan diri adalah rem terbaik untuk menahan keinginan. Seperti saat saya memotret jalingkut yang sudah mulai diselimuti oleh gelap.
Saya tidak lagi berharap melanjutkan huntingnya karena tubuh sudah mulai merasakan lelah dan ada orang lain yang menantikan kepulangan saya dengan penuh harap.
![]() |
| Foto 8. |
Foto 8 ini bukan akhir dari moment hunting hari ini tapi masih ada hari-hari lain yang ingin sekali aku arungi dan mengabadikan moment dengan kamera terbaik yang saya punya.











0 Komentar
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang komunikatif, sopan, berbobot, dan tentunya yang relevan.
Jika kedapetan mengandung unsur p#rn#, ujaran kebencian, Sara, politik, link aktif, hoax maka akan dihapus.
✌❤😁
🙏Terimakasih🙏