Motorola Edge 70 Fusion: Teman Touring yang Serius untuk Pecinta Fotografi

smartphone untuk fotografi perjalanan
Motorola Edge 70 Fusion Bisa Jadi Teman Serius Untuk Pecinta Fotografi Touring. Foto motorola.com

Ada kalanya kita tidak sedang mencari smartphone dengan spesifikasi paling tinggi.

Kita hanya ingin sebuah hape yang nyaman dibawa pergi jauh, baterainya tidak cepat menyerah, kameranya bisa diandalkan ketika menemukan momen menarik, dan tidak membuat kita merasa perlu membawa terlalu banyak perangkat.

Bagi saya yang senang touring sekaligus menikmati fotografi, kebutuhan seperti itu terasa cukup masuk akal.

Ketika sedang berada di atas motor, kita tidak pernah tahu kapan sebuah pemandangan menarik akan muncul.

Bisa saja ketika melewati jalan kecil di antara persawahan, melihat kabut turun di perbukitan, menemukan warung kopi sederhana di pinggir jalan, atau berhenti di sebuah pelabuhan menjelang sore.

Dalam situasi seperti itu, kamera yang paling berguna sering kali bukan kamera yang spesifikasinya paling hebat.

Tetapi kamera yang selalu siap ketika momen datang.

Dan di sinilah Motorola Edge 70 Fusion mulai menarik perhatian saya.

Motorola Edge 70 Fusion dan Fotografi Touring

Motorola Edge 70 Fusion dan Sony A6400 Punya Peran Yang Berbeda.

Motorola membekali Edge 70 Fusion dengan kamera utama 50 MP yang menggunakan sensor Sony LYTIA 710. Kamera ini mempunyai aperture f/1.8, All Pixel Focus, serta Optical Image Stabilization atau OIS.

Bagi saya, menariknya justru bukan pada angka 50 MP tersebut.

Sebab, dalam keseharian saya masih terbiasa membawa kamera mirrorless Sony A6400.

Kamera tersebut mempunyai resolusi sekitar 24 MP. Jadi kalau hanya melihat angka megapiksel, Edge 70 Fusion bahkan terlihat jauh lebih tinggi.

Tetapi fotografi tentu tidak sesederhana itu.

Resolusi bukan satu-satunya hal yang menentukan kualitas sebuah foto.

Dan saya juga tidak melihat Edge 70 Fusion sebagai perangkat yang harus dibandingkan dengan A6400.

Keduanya mempunyai peran yang berbeda.

Sony A6400 saya gunakan ketika fotografi memang menjadi salah satu tujuan utama perjalanan. Ketika saya ingin lebih serius mencari komposisi, memilih focal length, mengatur exposure, atau memang sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang ingin saya foto.

Ada kepuasan tersendiri ketika membawa kamera mirrorless dalam perjalanan.

Tetapi membawa kamera juga berarti membawa perlengkapan meskipun tidak semuanya saya bawa.

Tapi setidaknya, lensa, baterai cadangan, charger, tas, dan ruang yang harus diperhitungkan apalagi jika semuanya ikut dibawa menggunakan motor.

Dan tidak setiap momen menarik cukup penting untuk membuat saya berhenti, membuka tas, mengambil A6400, menyiapkan kamera, lalu mulai memotret.

Kadang sebuah momen hanya berlangsung sebentar.

Kadang saya sedang tidak ingin berhenti terlalu lama.

Kadang pula saya hanya ingin menyimpan suasana yang saya lihat tanpa harus mengubah perjalanan menjadi sesi pemotretan.

Di sinilah sebuah smartphone mulai mempunyai peran yang berbeda.

Bukan menggantikan kamera.

Tetapi menjadi kamera yang selalu lebih mudah dijangkau.

Bukan Pengganti Kamera Mirrorless

Smartphone bukan pengganti kamera Mirrorless.  Foto oleh Jim Petkiewicz di Unsplash

Menurut saya, ini penting untuk ditegaskan sejak awal.

Motorola Edge 70 Fusion atau smartphone lainnya tidak perlu menggantikan Sony A6400 atau kamera lainnya saat touring.

Bahkan saya tidak melihat alasan untuk membuat keduanya menjadi semacam dua perangkat yang harus dipertandingkan.

A6400 mempunyai dunia fotografinya sendiri.

Begitu pula smartphone.

Ketika saya membawa A6400 dalam perjalanan, saya membawa kamera karena memang ingin mempunyai kemungkinan fotografi yang lebih luas.

Saya bisa memilih lensa sesuai kebutuhan. Saya bisa menentukan focal length. Saya bisa lebih leluasa mengatur exposure dan mengembangkan foto setelahnya.

Sementara itu, smartphone mempunyai keunggulan yang jauh lebih sederhana:

praktis.

Ketika melihat sesuatu yang menarik, saya tinggal mengeluarkan hape.

Tidak perlu memikirkan lensa mana yang harus dipasang. ✅

Tidak perlu membuka tas kamera. ✅

Tidak perlu memutuskan apakah momen tersebut cukup penting untuk menggunakan kamera mirrorless. ✅

Cukup keluarkan hape, arahkan kamera, lalu ambil foto.

Untuk fotografi perjalanan yang spontan, kemampuan seperti ini justru sangat berarti.

Sensor Sony LYTIA 710: Lebih dari Sekadar 50 MP

Ilustrasi dan Infografis Sensor Sony LYTIA 710 pada Motorola Edge 70 Fusion. AI Generated

Nama Sony pada sensor kamera smartphone tentu tidak otomatis berarti hasil fotonya akan seperti kamera Sony Alpha.

Ini perlu ditegaskan.

Terutama bagi pengguna kamera seperti saya yang sudah terbiasa dengan kamera mirrorless.

Sensor Sony LYTIA 710 bukanlah sensor yang kemudian membuat Edge 70 Fusion berubah menjadi kamera Sony Alpha dalam bentuk smartphone.

Kualitas sebuah foto smartphone merupakan hasil kerja bersama antara sensor, lensa, image signal processor, software, algoritma computational photography, autofocus, hingga bagaimana produsen melakukan tuning warna.

Jadi sensor hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem.

Namun penggunaan Sony LYTIA 710 tetap menarik.

Motorola tidak hanya mengejar angka resolusi besar, tetapi juga memasangkannya dengan aperture f/1.8, OIS, All Pixel Focus, serta pemrosesan gambar yang memang dirancang untuk fotografi smartphone.

Kamera utamanya menggunakan piksel 1,0 μm dan Ultra Pixel Technology yang diklaim dapat menghasilkan ukuran piksel efektif hingga 2,0 μm dalam kondisi tertentu.

Bagi pengguna biasa, angka-angka tersebut mungkin terdengar seperti spesifikasi teknis biasa.

Tetapi kalau dikembalikan kepada kebutuhan touring, ada satu hal yang lebih penting:

kamera harus mampu bekerja ketika kondisi pemotretan tidak selalu ideal.

Saat touring, cahaya bisa berubah dengan cepat.

Pagi hari mungkin terang.

Kemudian kita masuk ke jalan yang dinaungi pepohonan.

Beberapa saat kemudian matahari kembali muncul.

Menjelang sore, intensitas cahaya semakin rendah.

Kita tidak selalu punya kesempatan untuk mengatur semuanya seperti ketika sedang melakukan pemotretan dengan sengaja.

Karena itu, kombinasi sensor, aperture, autofocus dan OIS menjadi lebih menarik daripada sekadar angka 50 MP.

Fotografi Touring Tidak Selalu Tentang Lanskap

Fotografi spontan saat touring lebih praktis menggunakan Smarphone. Foto dokumentasi Sparklepush.com
Fotografi spontan saat touring lebih praktis menggunakan Smarphone. Foto dokumentasi Sparklepush.com

Kalau mendengar fotografi touring, mungkin yang pertama terbayang adalah foto pemandangan.

Gunung.

Pantai.

Jalan berkelok.

Motor berhenti di pinggir jalan.

Tetapi pengalaman perjalanan sebenarnya jauh lebih luas dari itu.

Ada warung kopi kecil yang kita temukan secara tidak sengaja.

Ada penjual makanan yang sedang sibuk melayani pembeli.

Ada rumah tua di pinggir jalan.

Ada kapal yang perlahan meninggalkan pelabuhan.

Ada cahaya sore yang jatuh di antara pepohonan.

Ada pula teman seperjalanan yang sedang bersiap mengenakan helm dan melanjutkan perjalanan.

Bahkan, ada pula orang yang tersenyum saat menyadari dia sedang dipotret.

Momen seperti itu tidak selalu membutuhkan kamera dengan kemampuan paling lengkap.

Kadang kita hanya membutuhkan kamera yang siap.

Dan smartphone mempunyai keunggulan besar dalam hal tersebut.

Kita tidak perlu merencanakan semuanya.

Tidak perlu menunggu kondisi ideal.

Tidak perlu memikirkan perlengkapan.

Cukup melihat, merasakan bahwa momen itu menarik, lalu memotret.

Bagi saya, fotografi spontan seperti inilah yang membuat kamera smartphone menjadi menarik sebagai bagian dari perlengkapan touring.

Kamera Ultrawide untuk Menceritakan Tempat

Dilengkapi kamera ultra wide yang praktis saat 

Selain kamera utama, Motorola Edge 70 Fusion mempunyai kamera ultrawide 13 MP dengan bidang pandang sekitar 120 derajat.

Bagi saya, kamera ultrawide cukup penting untuk fotografi perjalanan.

Sebab fotografi touring bukan hanya soal memotret sebuah objek.

Kita juga ingin menunjukkan tempat di mana objek tersebut berada.

Misalnya ketika berhenti di sebuah jalan pegunungan.

Kamera utama bisa digunakan untuk mengambil pemandangan tertentu.

Tetapi ultrawide memungkinkan kita memasukkan lebih banyak elemen sekaligus: motor, jalan, pepohonan, langit, dan lanskap.

Begitu juga ketika menemukan kedai kopi kecil.

Ruang yang sempit sering membuat kita sulit mendapatkan komposisi yang diinginkan dengan kamera utama.

Ultrawide memberikan ruang tambahan.

Kita bisa memasukkan meja, cangkir kopi, interior kedai, dan suasana sekitar ke dalam satu frame.

Bagi saya, kamera utama lebih banyak digunakan untuk memotret apa yang menarik perhatian.

Sementara ultrawide membantu menceritakan di mana kita berada.

Dan untuk fotografi perjalanan, keduanya mempunyai fungsi yang berbeda.

Tidak Punya Telephoto, dan Itu Bukan Masalah untuk Semua Orang

Ada satu hal yang juga harus kita akui.

Motorola Edge 70 Fusion tidak mempunyai kamera telephoto khusus.

Jadi kalau Anda sering memotret objek yang jauh, smartphone lain mungkin lebih sesuai.

Nothing Phone (3a), misalnya, menawarkan kamera telephoto 50 MP dengan 2× optical zoom.

Kemampuan seperti itu tentu menarik untuk fotografi perjalanan.

Kita bisa mengambil detail bangunan dari kejauhan, memotret kapal yang berada di tengah air, mengambil objek yang sulit didekati, atau mendapatkan perspektif yang lebih terkompresi.

Tetapi apakah itu berarti Edge 70 Fusion kalah?

Belum tentu.

Semuanya kembali kepada gaya fotografi.

Jika sebagian besar foto Anda adalah lanskap, suasana tempat, makanan, kopi, orang, jalan, dan dokumentasi perjalanan, kamera utama dan ultrawide sudah mencakup kebutuhan yang cukup luas.

Saya sendiri melihat telephoto sebagai kemampuan yang menarik, tetapi bukan sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap fotografer touring.

Bagaimana dengan Google Pixel 9a?

Google Pixel 9a mempunyai pendekatan yang berbeda.

Kamera belakangnya terdiri dari kamera wide 48 MP dan ultrawide 13 MP.

Secara jumlah kamera, sistemnya juga tidak terlihat terlalu rumit.

Tetapi kekuatan Pixel memang banyak berada pada computational photography.

Google sudah lama dikenal mampu menghasilkan foto yang bagus tanpa mengharuskan pengguna memahami terlalu banyak pengaturan kamera.

Bagi orang yang mempunyai prinsip:

angkat hape → tekan shutter → selesai

Pixel 9a merupakan pilihan yang menarik.

Terutama bagi pengguna yang menginginkan pemrosesan gambar yang matang dan konsisten dalam berbagai kondisi.

Edge 70 Fusion tentu mempunyai pendekatan yang berbeda.

Ia menawarkan sensor Sony LYTIA 710, OIS, ultrawide, layar yang sangat terang, serta baterai yang besar.

Jadi perbedaannya bukan sekadar siapa yang mempunyai kamera lebih bagus.

Tetapi bagaimana keseluruhan perangkat tersebut sesuai dengan kebiasaan penggunanya.

Bagaimana dengan Samsung Galaxy A56 5G?

Samsung Galaxy A56 5G juga layak masuk dalam daftar pertimbangan.

Kamera utamanya menggunakan sensor 50 MP dengan OIS, ditemani kamera ultrawide 12 MP dan kamera macro 5 MP.

Samsung mempunyai keuntungan lain berupa ekosistem yang sudah sangat matang dan pengalaman software yang familiar bagi banyak pengguna.

Dari sisi fotografi, Galaxy A56 merupakan pilihan yang aman.

Tetapi untuk seseorang yang melihat smartphone sebagai bagian dari perlengkapan touring, Edge 70 Fusion mempunyai beberapa karakter yang cukup menarik.

Salah satunya adalah baterai.

Baterai 7.000 mAh: Teman Perjalanan yang Lebih Tenang

Motorola Edge 70 Fusion hadir dengan baterai silikon-karbon 7.000 mAh dan dukungan pengisian cepat 68W TurboPower.

Bagi pengguna yang hanya memakai smartphone untuk komunikasi dan media sosial, kapasitas sebesar itu mungkin terasa berlebihan.

Tetapi ketika touring, smartphone melakukan jauh lebih banyak pekerjaan.

Ia menjadi navigator.

Kamera.

Alat komunikasi.

Pemutar musik.

Pencari informasi.

Alat pembayaran.

Pencatat perjalanan.

Dan tentu saja tempat menyimpan foto serta video.

Navigasi yang terus menyala, layar yang aktif, koneksi seluler, kamera, Bluetooth, dan aplikasi lainnya semuanya menggunakan baterai.

Karena itu, baterai besar bukan sekadar angka yang bagus untuk ditampilkan di kotak penjualan.

Bagi pengguna touring, baterai besar berarti satu hal sederhana:

lebih sedikit kekhawatiran.

Kita tidak harus terlalu sering memikirkan kapan harus mencari colokan.

Dan dalam perjalanan jauh, hal sederhana seperti itu terasa cukup berarti.

Layar Terang untuk Penggunaan di Luar Ruangan

Edge 70 Fusion mempunyai layar 6,78 inci Extreme AMOLED dengan resolusi Super HD 2772 × 1272 dan refresh rate hingga 144 Hz.

Namun untuk kebutuhan touring, saya justru lebih tertarik pada tingkat kecerahan layarnya.

Motorola mengklaim tingkat kecerahan puncaknya mencapai 5.200 nits.

Angka peak brightness tentu tidak berarti layar akan terus berada pada tingkat tersebut sepanjang waktu.

Tetapi layar yang mampu mencapai tingkat kecerahan tinggi mempunyai manfaat yang jelas ketika smartphone digunakan di luar ruangan.

Terutama ketika kita sedang melihat hasil foto, membaca navigasi, atau sekadar berusaha melihat layar di bawah cahaya matahari.

Untuk perangkat yang memang dirancang untuk sering dibawa keluar rumah, kemampuan seperti ini terasa lebih relevan daripada sekadar mengejar angka refresh rate tinggi.

Ketahanan yang Memberikan Rasa Aman

Motorola juga memberikan perlindungan IP68/IP69 serta sertifikasi MIL-STD-810H pada Edge 70 Fusion.

Bagi saya, sertifikasi seperti ini bukan alasan untuk menganggap smartphone sebagai perangkat yang kebal terhadap segala macam kondisi.

Tetap harus dirawat.

Tetap harus berhati-hati.

Tetapi touring memang membawa perangkat ke lingkungan yang lebih beragam dibandingkan penggunaan sehari-hari di rumah atau kantor.

Debu.

Percikan air.

Perubahan cuaca.

Panas.

Dan kondisi jalan yang tidak selalu bisa kita prediksi.

Karena itu, perlindungan tambahan tetap mempunyai nilai.

Bukan supaya kita sengaja menguji ketahanannya, tetapi supaya kita merasa sedikit lebih tenang ketika membawanya dalam perjalanan.

Bagaimana Posisi Edge 70 Fusion Dibandingkan Hape Mid-Range Lain?

Kalau hanya melihat angka spesifikasi, kita mungkin akan sibuk menghitung megapiksel, kapasitas baterai, refresh rate, atau jumlah kamera.

Tetapi untuk kebutuhan fotografi touring, saya lebih suka melihatnya berdasarkan fungsi.

Berikut gambaran sederhananya:

Tabel di atas bukan untuk menentukan siapa yang menjadi juara.

Justru sebaliknya.

Tabel tersebut menunjukkan bahwa setiap smartphone mempunyai pendekatan yang berbeda.

Nothing Phone (3a) lebih menarik jika telephoto menjadi kebutuhan.

Pixel 9a menarik bagi pengguna yang mengutamakan computational photography.

Galaxy A56 menjadi pilihan yang aman dan familiar.

Sedangkan Edge 70 Fusion menawarkan kombinasi kamera utama, ultrawide, baterai besar, dan ketahanan yang menurut saya sangat cocok untuk penggunaan di luar ruangan.

Jadi, Apakah Motorola Edge 70 Fusion Tepat untuk Fotografer Touring?

Menurut saya, bisa jadi.

Tetapi alasannya bukan karena Edge 70 Fusion mempunyai spesifikasi paling tinggi.

Dan bukan pula karena kamera 50 MP dengan sensor Sony LYTIA 710 otomatis membuatnya menjadi kamera profesional.

Alasannya jauh lebih sederhana.

Edge 70 Fusion mempunyai karakter yang cocok dengan cara saya menggunakan smartphone ketika bepergian.

Kamera utamanya cukup serius untuk menangkap momen spontan.

Ultrawide memberikan perspektif yang lebih luas ketika ingin menceritakan suasana tempat.

OIS membantu ketika kondisi cahaya mulai menurun.

Baterai 7.000 mAh memberikan ruang bernapas ketika smartphone digunakan untuk navigasi, kamera, komunikasi dan hiburan sepanjang perjalanan.

Layar yang sangat terang membantu ketika perangkat digunakan di luar ruangan.

Dan perlindungan IP68/IP69 serta MIL-STD-810H memberikan rasa aman tambahan ketika perjalanan membawa kita ke kondisi yang tidak selalu ideal.

Tetapi tentu saja, Edge 70 Fusion bukan pilihan sempurna untuk semua orang.

Kalau Anda sering memotret objek yang jauh, smartphone dengan telephoto seperti Nothing Phone (3a) mungkin lebih sesuai.

Kalau Anda sangat mengutamakan computational photography dan pengalaman point-and-shoot, Pixel 9a layak diperhitungkan.

Kalau Anda menginginkan perangkat mainstream dengan ekosistem yang matang, Galaxy A56 juga merupakan pilihan yang masuk akal.

Tetapi jika yang dicari adalah smartphone yang bisa menjadi teman touring sekaligus kamera yang selalu siap, Edge 70 Fusion punya alasan yang kuat untuk dipertimbangkan.

Hape Tidak Harus Menggantikan Kamera

Bagi saya, smartphone tidak harus menggantikan kamera mirrorless.

Begitu pula sebaliknya.

Sony A6400 tetap mempunyai tempatnya sendiri dalam perjalanan saya.

Ada saat ketika saya memang ingin membawa kamera, memilih lensa, mencari komposisi, dan meluangkan waktu untuk membuat sebuah foto.

Tetapi ada juga momen ketika saya hanya ingin menikmati perjalanan.

Dan justru pada saat seperti itulah smartphone menjadi menarik.

Ia tidak meminta banyak persiapan.

Tidak membutuhkan tas khusus.

Tidak membuat kita harus menentukan terlebih dahulu apakah sebuah momen cukup penting untuk difoto.

Ia hanya ada di sana.

Siap digunakan ketika kita membutuhkannya.

Bagi saya, itulah alasan mengapa Motorola Edge 70 Fusion menarik untuk dilihat dari perspektif fotografi touring.

Bukan karena ia bisa menggantikan kamera mirrorless.

Tetapi karena ia bisa mengisi ruang yang berbeda.

Kamera besar saya masih tersimpan di tas.

Motor berhenti.

Helm dilepas.

Secangkir kopi datang.

Matahari perlahan turun.

Ada sesuatu yang menarik di depan mata.

Kamera besar masih tersimpan di tas.

Tetapi hape ada di tangan.

Satu foto.

Selesai.

Mungkin tidak sempurna.

Tetapi beberapa tahun kemudian, foto sederhana itu bisa menjadi salah satu bagian paling berharga dari perjalanan.

Posting Komentar

0 Komentar